Rhida hanafie's Blog

ketulusan adalah kesempurnaan..

V.I. Lenin (1902) 8 Februari 2010

Filed under: 1 — rhidahanafie @ 9:57 am

Spontanitas Massa dan Kesadaran Kaum Sosial Demokrat
Sudah kita katakan bahwa gerakan kita, yang jauh lebih luas dan mendalam daripada gerakan pada tahun-tahun 70-an, harus dijiwai oleh tekad tulus ikhlas dan energi yang sama seperti yang menjiwai gerakan pada waktu itu. Memang, sampai kini kiranya tak seorang pun meragukan bahwa kekuatan gerakan dewasa ini terletak pada kebangkitan massa (terutama proletariat industri) dan bahwa kelemahannya terletak pada ketidak cukupan kesadaran dan inisiatif di kalangan para pemimpin revolusioner.
Akan tetapi di waktu akhir-akhir ini telah didapat suatu penemuan yang sangat mengagumkan, yang mengancam akan meruntuhkan semua pandangan yang berlaku selama ini mengenai soal tersebut. Penemuan ini didapat oleh Raboceye Dyelo, yang dalam berpolemik dengan Iskra dan Zarya tidak membatasan diri pada keberatan-keberatan mengenai bagian-bagian tersendiri-sendiri, tetapi mencoba membawa “perbedaan-perbedaan pendapat umum” ke akar yang lebih mendalam –ke ”penilaian yang berbeda mengenai arti relatif unsur spontan dan unsur ‘berencana’ secara sadar”. Tesis tuduhan Raboceye Dyelo berbunyi : “peremehan arti penting unsur obyektif atau unsur spontan perkembangan” [*1]. Mengenai ini kami mengatakan : jika polemik dengan Iskra dan Zarya tidak membawa hasil lain apapun kecuali mendorong Raboceye Dyelo sampai pada ide tentang “perbedaan-perbedaan pendapat umum”, maka hasil ini saja akan memberikan banyak kepuasan kepada kita, begitu penting tesis ini dan begitu terang ia menyoroti seluruh inti sari perbedaan-perbedaan pendapat di bidang teori dan politik dewasa ini yang ada di kalangan kaum sosial-demokrat Rusia.
Itulah sebabnya masalah hubungan antara kesadaran dengan spontanitas mempunyai arti penting umum yang maha besar, dan itulah sebabnya masalah ini harus dibicarakan secara panjang lebar.
A. PERMULAAN KEBANGKITAN YANG SPONTAN
Dalam bab di muka sudah kita tunjukkan betapa umumnya kegairahan pemuda terpelajar Rusia pada teori Marxisme dalam pertengahan tahun-tahun 90-an. Sekitar waktu itu juga pemogokan-pemogokan buruh yang terjadi sesudah perang industri yang terkenal di Petersburg pada tahun 1896 bersifat merata juga. Menjalarnya pemogokan-pemogokan buruh ini ke seluruh Rusia menunjukan dengan jelasnya betapa dalam kebangkitan kembali gerakan rakyat, dan jika kita hendak berbicara tentang “unsur spontan” itu maka, sudah barang tentu, gerakan inilah yang pertama-tama harus dianggap sebagai spontan. Tetapi kan spontanitas yang satu berbeda dengan yang lain. Pemogokan-pemogokan terjadi di Rusia baik dalam tahun-tahun 70-an maupun 60-an (dan bahkan dalam paro pertama abad ke 19) yang dibarengi dengan penghancuran mesin-mesin “secara spontan”, dan sebagainya. Dibandingkan dengan “kerusuhan-kerusuhan” ini maka pemogokan-pemogokan pada tahun-tahun 90-an bahkan boleh disebut “sadar’, sedemikian besar langkah maju yang telah dibuat oleh gerakan buruh pada waktu itu. Ini menunjukan kepada kita bahwa “unsur spontan” pada hakekatnya tidak kurang dan tidak lebih merupakan kesadaran dam bentuk embrio. Kerusuhan-kerusuhan yang primitifpun sudah mngungkapkan kebangkitan kesadaran sampai batas tertentu: kaum buruh kehilangan kepercayaan mereka yang sudah lama sekali pada kelanggengan sistem yang menindas mereka, mereka mulai….saya tak akan mengatakan mengerti, tetapi mulai merasakan perlunya perlawanan kolektif dan tegasnya mencampakkan kepatuhan budak kepada sep-sep mereka. Tetapi ini bagaimanapun juga lebih banyak merupakan manifestasi rasa putus asa dan balas dendam daripada perjuangan. Pemogokan-pemogokan pada tahun-tahun 90-an itu memperlihatkan kepada kita kilasan-kilasan kesadaran yang jauh lebih besar; tuntutan-tuntutan tertentu diajukan, diperhitungkan sebelumnya saat yang menguntungkan; kejadian-kejadian dan contoh-contoh yang terkenal ditempat-tempat lain didiskusikan, dan sebagainya. Kalau kerusuhan-kerusuhan semata-mata pemberontakan kaum tertindas, maka pemogokan-pemogokan yang sistematis sudah merupakan sudah merupakan merupakan embrio perjuangan klas, tetapi hanya embrio saja. Dilihat dari pemogokan-pemogokan ini hanyalah perjuangan trade-unionis, tetapi belum merupakan perjuangan sosial-demokratis. Pemogokan-pemogokan ini menandakan bangkitnya anatagonisme antara kaum buruh dengan kaum majikan, tetapi pada kaum buruh tidak ada dan tidak mungkin ada kesadaran mengenai pertentangan-pertentangan kepentingan yang tak terdamaikan dengan seluruh sistem politik dan sosial modern, yaitu kesadaran mereka belum merupakan kesadaran sosial-demokratis. Dalam arti ini, pemogokan-pemogokan pada tahun-tahun 90-an, kendatipun kemajuannya yang besar jika dibandingkan dengan “kerusuhan-kerusuhan” itu, tetap merupakan gerakan spontan belaka.
Sudah kita katakan bahwa pada kaum buruh tidak mungkin ada kesadaran sosial demokratis. Kesadaran sosial-demokratis itu hanya dapat dimasukkan dari luar. Sejarah semua negeri menunjukkan bahwa klas buruh, dengan usahanya sendiri semata-mata, hanya dapat mengembangkan kesadaran trade-unionis saja, yaitu keyakinan akan perlunya menggabungkan diri dalam perserikatan-perserikatan, melancarkan perjuangan melawan kaum majikan, dan berusaha keras memaksa pemerintah mengeluarkan undang-undang yang diperlukan kaum buruh, dan sebagainya. [*2] Tetapi ajaran sosialisme lahir dari teori-teori filsafat, sejarah dan ekonomi yang diciptakan oleh wakil-wakil terpelajar klas-klas bermilik, kaum intelektual. Menurut kedudukan sosial mereka, pendiri-pendiri sosialisme ilmiah modern, Marx dan Engels sendiri termasuk intelejensia borjuis. Persis begitu pula di Rusia ajaran-ajaran teori sosial-demokrasi timbul terlepas sama sekali dari pertumbuhan spontan gerakan buruh, ia timbul sebagai hasil yang wajar dan tak terelakan dari perkembangan pikiran dikalangan intelejensia sosialis revolusioner. Pada waktu yang sedang kita bicarakan ini, yaitu pada pertengahan tahun-tahun 90-an, ajaran ini tidak hanya merupakan program yang dirumuskan secara sempurna dari grup Pembebasan Kerja, tetapi juga telah menarik ke pihaknya matoritas pemuda revolusioner di Rusia.
Dengan demikian terdapat baik kebangkitan spontan massa buruh, keinsafan untuk hidup secara sadar dan berjuangan secara sadar, maupun pemuda revolusioner yang bersenjatakan teori sosial-demokratis, yang berusaha keras untuk berhubungan dengan kaum buruh. Dalam hubungan ini teristimewa penting menyebut kenyataan yang sering dilupakan (dan relatif sedikit diketahui) bahwa kaum sosial-demokrat yang pertama pada periode itu dengan bersemangat melakukan agitasi ekonomi (dan dengan sepenuhnya memperhatikan dalam hal ini petunjuk-petunjuk yang betul-betul berguna yang termuat dalam brosur Tentang Agitasi yang ketika itu masih berupa naskah), mereka bukan hanya tidak memandang agitasi ekonomi sebagai satu-satunya tugas mereka, tetapi sebaliknya, sejak dari awal mula mereka juga mengajukan tugas-tugas sejarah yang paling luas dari sosial-demokrasi Rusia pada umumnya, dan tugas dan menggulingkan otokrasi pada khususnya. Misalnya, sudah pada akhir tahun 1895 grup sosial-demokrat Petersburg, yang mendirikan Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh [44], mempersiapkan nomor pertama surat kabar yang dinamakan Raboceye Dyelo . Nomor yang sudah siap sepenuhnya untuk cetak ini disita oleh gendarme yang pada tanggal 8 malam menjelang tanggal 9 Desember 1895 mengerebek rumah salah seorang anggota grup tersebut, yaitu Anatoli Alekseyewic [*3], maka itu Raboceye Dyelo yang orisinil itu ditakdirkan tidak melihat dunia. Tajuk rencana surat kabar ini (yang barang kali kira-kira tigapuluh tahun kemudian salah satu Ruskaya Starina [45] akan membongkarnya dari arsip Jawatan Kepolisian) melukiskan tugas-tugas sejarah klas buruh Rusia dan menempatkan pencapaian kemerdekaan politik dideretan paling depan tugas-tugas ini. Selanjutnya terdapat artikel”apakah yang Dipikirkan Oleh Menteri-menteri Kita?” [*4] yang membahas pembubaran komite-komite PBH oleh kepolisian, dan beberapa surat tidak hanya dari Petersburg tetapi juga dari tempat-tempat lain di Rusia (misalnya, sepucuk surat tentang serangan berdarah terhadap kaum buruh di Provinsi Yaroslav). Dengan demikian, jika kami tidak salah, “usaha pertama”, kaum sosial demokrat Rusia pada tahun-tahun 90-an ini, bukanlah surat kabar yang bersifat lokal yang sempit, lebih-lebih bukan surat kabar yang bersifat “ekonomi”, melainkan surat kabar yang bertujuan menyatukan perjuangan pemogokan dengan gerakan revolusioner melawan otoktrasi, dan menarik semua orang yang ditindas oleh obskurantisme [46] reaksioner supaya mendukung soaial-demokrasi. Tak seorangpun yang sedikit saja mengenal keadaan gerakan pada waktu itu bisa menyangsikan bahwa surat kabar yang demikian itu pasti akan mendapat simpati penuh dikalangan kaum buruh di ibukota dan intelegensia revolusioner dan oplahnya pasti akan besar sekali. Kegagalan usaha itu hanyalah menunjukkan bahwa kaum sosial-demokrat pada masa itu tidak sanggup memenuhi tuntutan-tuntutan mendesak pada saat itu karena mereka kurang pengalaman revolusioner dan latihan praktis. Demikian juga harus dikatakan mengenai S. Petersburgski Raboci Listok [47] dan terutama mengenai Rabocaya Gazeta dan mengenai Manifesto Partai Buruh Sosial-Demokrat Rusia yang didirikan dalam musim semi tahun 1898.Sudah barang tentu tidak terlintas dalam kepala kami untuk menyalahkan para aktivis pada kala itu karena ketidaksiapan ini. Tetapi untuk menggunakan pengalaman gerakan itu dan untuk menarik pelajaran praktis dari pengalaman itu, kita harus memahami sedalam-dalamnya sebab-sebab dan arti penting kekurangan ini atau kekurangan itu. Karena itu sangatlah penting menunjukkan bahwa sebagian (mungkin bahkan mayoritas) dari kamusosial-demokrat, yang melakukankegiatan pada tahun-tahun 1895-1898, sepenuhnya tepatmenganggap mungkin bahkan pada waktu itu, pada awal mula gerakan “spontan” itu, untuk tampil dengan program yang sangat luas dan taktik militan [*5].
Ketidaksiapan pada mayoritas kaum revolusioner, yang merupakan gejala yang sepenuhnya wajar, tak dapat menimbulkan kekuatiran-kekuatiran khusus apapun. Karena tugas-tugas sudah ditetapkan dengan tepat, karena ada enerzi untuk usaha-usaha yang berulangulang guna melaksanakan tugas-tugas ini, maka kegagalan-kegagalan sementara bukan bencana yang begitu besar. Pengalaman revolusioner dan kecakapan berorganisasi adalah hal-hal yang dapat diperoleh asalkan ada hasrat untuk memperolehnya, asalkan kekurangan-kekurangan itu disadari –yang dalam usaha revolusioner merupakan lebih dari separo pengkoreksian kekurangan-kekurangan itu!
Tetapi bencana yang tidak begitu besar itu menjadi bencana yang nyata ketika kesadaran ini mulai menjadi kabur (dan kesadaran ini sangat hidup di kalangan aktivis-aktivis dari grup tersebut diatas), ketika muncul orang-orang — dan bahkan organ-organ sosial-demokrat — yang bersedia memandang kekurangan-kekurangan ini sebagai kebajikan, yang bahkan mencoba memberi dasar teori bagi pembungkukkan dan pemujaan kepada spontanitas. Sudahlah tiba waktunya untuk menyimpulkan aliran ini, yang inti sarinya secara sangat tidak tepat dan terlalu sempit melukiskan sebagi konsepsi “ekonomisme”.

B. PEMUJAAN KEPADA SPONTANITAS. RABOCAYA MISL
Sebelum membicarakan manifestasi pemujaan ini dalam literatur, kami ingin menyebutkan kenyataan khas yang berikut (yang sampai kepada kita sumber tersebut diatas), yang sedikit menyoroti bagaimana dua aliran yang bakal bentrokan dalam sosial demokrat Rusia timbul dan tumbuh di kalangan kawan-kawan yang bekerja di Peterburg. Pada awal tahun 1897, sebelum pembuangan mereka, A.A Waneyev dan beberapa orang kawannya mengunjungi sutu rapat khusus [48], dimana berkumpul anggota-anggota “tua” dan “muda” Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh. Pembicaraan berpusat terutama disekitar organisasi dan khususnya sekitar “anggaran dasar untuk dana buruh”, yang dalam bentuknya yang difinitif dimuat dalam Listok Rabotnika [49] No.9-10, hal 46. Perbedaan pendapat yang tajam segera tersingkap antara anggota-anggota tua (kaum “Desembris”, sebagaimana kaum sosial-demokrat Petersburg secara bergurau menamakan mereka) dengan beberapa anggota “muda” (yang kemudian dengan aktif ambil bagian dalam Rabocaya Mils), dan segera berkobarlah diskusi yang hangat. Anggota-anggota “muda” mempertahankan prinsip-prinsip pokok anggaran dasar dalam bentuk sebagaimana telah disiarkan. Anggota-anggota “tua” mengatakan bahwa yang dibutuhkan pertama-tama sama sekali bukanlah ini, melainkan pengkonsolidasian Liga Perjuangan menjadi sebuah organisasi kaum revolusioner, dan berbagai dana buruh, lingkaran propaganda pemuda pelajar dan lain-lain, harus tunduk kepada organisasi itu. Tak usah dikatakan lagi kiranya bahwa orang-orang yang berdebat itu jauh darai membayangkan bahwa perbedaan pendapat ini adalah permulaan dari perpisahan; sebaliknya mereka menganggapnya sebagai bersifat berdiri sendiri dan kebetulan. Tetapi kenyataan ini menunjukan bahwa di Rusia “ekonomisme” juga timbul dan meluas bukan sama sekali tanpa perjuangan menentang kaum sosial-demokrat “tua” (ini sering dilupakan oleh kaum ekonomis yang sekarang). Dan jika, pada pokoknya, perjuangan ini tidak meninggalkan bekas-bekas “dokumenter”, ini semata-mata karena susunan keanggotaan lingkaran-lingkaran yang bekerja waktu itu mengalami perubahan yang begitu sering sehingga tak ada kontinuitas dan karena itu perbedaan-perbedaan pendapat itu tidak tercatat dalam dokumen apapun.
Terbitnya Rabocaya Misl menyingkap ekonomisme, tetapi juga tidak sekaligus. Kita harus membayangkan sendiri secara konkrit syarat-syarat bekerja dan sifat pendek umur mayoritas lingkaran-lingkaran Rusia (dan hanya mereka yang telah mengalaminya dapat membayangkan secara konkrit), agar dapat mengerti betapa banyak hal yang bersifat kebetulan terdapat dalam sukses-sukses dan kegagalan-kegagalan aliran baru itu di berbagai kota, dan betapa lama baik pendukung-pendukung maupun lawan-lawan aliran “baru” ini tidak dapat mengambil keputusan –memang mereka tidak mempunyai kesempattan sama sekali untuk memutuskan– mengenai apakah ini benar-benar suatu aliran yang khas atau hanya suatu pengungkapan ketidaksiapan perorangan-perorangan tertentu. Misalnya, nomor-nomor pertama stensilan dari Rabocaya Misl bahkan sama sekali tidak diketahui mayoritas besar kaum sosial-demokrat, dan jika sekarang kita dapat mengutuf tajuk rencana nomor pertamanya, ini hanyalah karena tajuk rencana itu dimuat kembali dalam artikel W.I. [50] (Listok Rabotnika No. 9-10, hlm.47 dan berikutnya) yang sudah tentu tidak lupa menyanjung-nyanjung dengan bersemangat –bersemangat tanpa akal– surat kabar baru itu yang begitu berbeda dari surat-surat kabar dan rencana surat-surat kabar yang kami sebutkan diatas [*6]. Dan tajuk rencana ini patut dibicarakan karena ia begitu menonjol mengungkapkan seluruh jiwa Rabocaya Misl dan ekonomisme pada umumnya.
Sesudah menyatakan bahwa tangan “simanset biru”[51] tak akan dapat menahan perkembangan gerakan buruh, tajuk rencana itu seterusnya mengatakan: “……. Daya hidup gerakan buruh sedemikian karena kaum buruh itu sendiri akhirnya memegang nasib mereka dalam tangan mereka sendiri dengan merebutnya dari tangan para pemimpin”, dan tesis dasar ini dikembangkan lebih lanjut secara terperinci. Sebetulnya pemimpin-pemimpin (yaitu sosial demokrat, organisator-organisator Liga Perjuangan) itu, boleh dikatakan direnggut oleh polisi dari tangan kaum buruh [*7]; tetapi digambarkan seolah-seolah kaum buruh melakukan perjuangan melawan para pemimpin dan membebaskan diri dari penindasan mereka. Bukannya menyerukan maju ke arah konsolidasi organisasi revolusioner dan kearah perluasan aktivitas politik, malah mengeluarkan seruan mundur ke perjuangan trade-unionis semata-mata. Dinyatakan bahwa “dasar ekonomi dari gerakan dibarengkan oleh usaha untuk selama-lamanya tidak melupakan cita-cita politik”, dan bahwa semboyan gerakan buruh ialah “berjuang untuk perbaikan keadaan ekonomi” (!) atau lebih baik lagi, “Buruh untuk Buruh”. Dinyatakan bahwa dana pemogokan “lebih berharga bagi gerakan daripada seratus organisasi lain” (bandingkan pernyataan ini yang dikeluarkan dalam bulan Oktober 1897 dengan perdebatan anatar kaum “Desembris” dengan anggota-anggota muda pada awal tahun 1897), dan sebagainya. Semboyan-semboyan seperti: kita harus memusatkan perhatian bukan pada “sari” kaum buruh melainkan pada buruh “rata-rata”, pada massa buruh; “politik selalu mengikuti ekonomi dengan patuh”[*8] dan sebagainya dan sebagainya menjadi mode dan mempunyai pengaruh yang sangat kuat atas massa pemuda yang tertarik pada gerakan tetapi yang dalam kebanyakan hal hanya tahu Marxisme sepotong-sepotong, Marxisme yang diuraikan secara legal.
Ini merupakan penindihan sepenuhnya kesadaran oleh spontanitas –spontanitas kaum “sosial-demokrat” yang mengulang-ulangi “ide-ide” Tuan W.W, spontanitas buruh-buruh yang terpesona oleh argumen-argumen bahwa tambahan satu kopek untuk setiap rubel lebih berharga daripada segala sosialisme dan segala politik dan bahwa mereka harus melancarkan “perjuangan dengan mengetahui bahwa mereka berjuang bukan untuk sesuatu generasi yang akan datang melainkan untuk diri mereka sendiri dan anak-anak mereka” (tajuk rencana Rabocaya Misl No.1). Kata-kata seperti itu selalu menjadi senjata yang paling disukai kaum borjuis Eropa Barat yang karena membenci sosialisme berusaha keras (seperti “Sosial-Politiker” Jerman Hirsch) untuk memindahkan trade-unionis Inggris ke tanah air mereka dan mengkhotbahkan kepada kaum buruh bahwa perjuangan serikat buruh semata-mata [*9] adalah justru perjuangan untuk diri mereka sendiri dan anak-anak mereka, dan bukan untuk sesuatu generasi yang akan datang dan sesuatu sosialisme yang akan datang. Dan sekarang “W.W. dari sosial-demokrasi Rusia” telah mulai mengulang-ulangi kata-kata burjuis. Disini penting menyebutkan tiga keadaan yang akan berguna bagi kita dalam menganalisa lebih lanjut perbedaan-perbedaan pendapat dewasa ini [*10].
Pertama-tama, penindihan kesadaran oleh spontanitas, yang telah kita sebutkan diatas , juga terjadi secara spontan. Ini tampaknya seperti persilatan lidah tetapi, sayang ini adalah kebenaran yang pahit. Ia terjadi bukan sebagai perjuangan secara terbuka antara dua pendirian yang sama sekali berlawanan, dimana yang satu menang atas yang lain, tetapi ia terjadi karena semakin banyak jumlah “orang tua” -orang revolusioner yang “direnggut” oleh gendarme dan karena semakin banyak jumlah orang “muda” “W.W. dari sosial-demokrasi Rusia” muncul diatas panggung. Setiap orang yang –tak akan saya katakan telah mengambil bagian dalam gerakan Rusia dewasa ini,tetapi sekurang-kurangnya telah menghirup udaranya –tahu betul bahwa memang demikianlah halnya. Dan jika kami sekalipun demikian teristimewa mendesak supaya pembaca menjadi jelas sepenuhnya mengenai kenyataanyang sudah umum diketahui ini, dan jika kami demi kejelasan, begitulah, mengutip bahan-bahan mengenai Raboceye Dyelo terbitan pertama dan mengenai perdebatan antara kaum “tua” dengan kaum “muda” pada awal tahun 1897– ini adalah karena orang-orang berspekulasi dengan ketidaktahuan rakyat umum (atau para pemuda yang masih remaja sekali) mengenai kenyataan ini dan membangga-banggakan “demokratisme” mereka. Kami akan kembali lagi kepada hal ini nanti.
Kedua, dalam manifestasi yang pertama di bidang sastra dari ekonomisme, kita sudah dapat melihat gejala yang sangat istimewa dan yang sangat khas untuk memahami semua perbedaan pendapat dikalangan kaum sosial-demokrat dewasa ini, bahwa pengikut-pengikut “gerakan buruh semata-mata”, para pemuja hubungan yang paling erat dan paling “organik” ( istilah yang dipakai Raboceye Dyelo) dengan perjuangan proletar, lawan-lawan dari segala intelegensia non buruh (walaupun itu intelegensia sosialis) terpaksa, guna mempertahankan pendirian mereka, menggunakan argumen-argumen “kaum trade-unionis semata-mata” yang borjuis. Ini menunjukkan bahwa sejak awal mula Rabocaya Misl mulai –secara sadar– melaksanakan program Credo. Ini menunjukkan (sesuatu yang sama sekali tak dapat dimengerti oleh Raboceye Dyelo) bahwa segala pemujaan kepada spontanitas gerakan buruh, segala peremehan peranan “unsur sadar”, peranan sosial-demokrasi, terlepas sama sekali apakah orang-orang yang meremehkan itu suka atau tidak, berarti memperkuat pengaruh ideologi burjuis di kalangan kaum buruh. Semua yang berbicara tentang “penilaian terlalu tinggi arti penting ideologi” [*11], tentang membesar-besarkan peranan unsur sadar [*12], dan sebagainya membayangkan bahwa gerakan buruh murni dengan sendirinya dapat dan akan menghasilkan ideologi yang bebas bagi dirinya sendiri, asal saja kaum buruh “merebut nasib mereka dari tangan para pemimpin”. Tetapi ini adalah kesalahan besar. Untuk melengkapi apa yang telah disebutkan diatas, kita akan mengutip lagi kata-kata yang tepat dan penting sekali yang diucapkan K. Kautsky tentang rancangan program baru Partai Sosial-Demokrat Austria [*13]:
“banyak kritikus revisionis kita berpendapat bahwa Marx menyatakan bahwa perkembangan ekonomi dan perjuangan klas tidak hanya menciptakan syarat-syarat untuk produksi sosialis, tetapi juga, dan secara langsung, melahirkan kesadaran (kursif dari K.K) tentang keharusan produksi sosialis. Dan para kritikus ini menegaskan bahwa Inggris , negeri yang paling berkembang secara kapitalis, lebih jauh daripada negeri lain manapun dari kesadaran ini. Berdasarkan rancangan itu, orang bisa mengira bahwa pandangan yang katanya Marxisme-ortodoks ini, yang dengan cara yang ditunjukkan diatas sudah terbantah , disetujui juga oleh komisi yang menyusun program Austria itu. Dalam rancangan program itu tercantum: ‘semakin berkembang kapitalisme semakin bertambah besar jumlah proletariat, proletariat akan semakin dipaksa dan memperoleh kemampuan untuk melancarkan perjuangan melawan kapitalisme, Proletariat menjadi sadar akan kemungkinan dan keharusan sosialisme. Dalam hubungan ini kesadaran sosialis tampak sebagai hasil yang semestinya dan langsung dari perjuangan klas proletariat. Tetapi sama sekali tidak benar. Tentu saja sosialisme, sebagai ajaran, bersumber pada hubungan-hubungan ekonomi modern sebagaimana perjuangan klas proletariat dan sebagaimana yang tersebut belakangan, timbul dari perjuangan menentang kemiskinan dan kesengsaraan massa yang diciptakan oleh kapitalisme, tetapi sosialisme dan perjuangan kelas timbul berdampingan satu dengan yang lainnya dan bukannya yang satu timbul dari yang lain: masing-masing dibawah syarat-syarat yang berbeda. Kesadaran sosialis modern dapat timbul hanya atas dasar pengetahuan ilmiah yang mendalam. Memang, ilmu ekonomi modern merupakan suatu syarat bagi produksi sosialis sama halnya seperti, misalnya, teknologi modern, dan proletarian tak dapat menciptakan yang satu atau yang lainnya, bagaimanapun juga ia menginginkannya: kedua-duanya timbul dari proses sosial modern. Pembawa ilmu bukanlah proletariat, melainkan intelegensia borjuis (kursif dari K.K): dalam otak anggota-anggota perorangan dari lapisan inilah lahir sosialisme modern, dan merekalah yang menyampaikannya kepada orang-orang proletas yang menonjol perkembangan inteleknya, yang selanjutnya memasukkannnya kedalam perjuangan klas proletariat dimana syarat-syarat mengijinkannya. Jadi, kesadaran sosialis adalah sesuatu yang dimasukkan ke dalam perjuangan klas proletariat dari luar (von Aussen Hineingentragenes) dan bukan sesuatu yang timbul dari dalamnya secara spontan (Urwuchsig). Karena itu program Hainfeld yang lama tepat sepenuhnya menyatakan bahwa tugas sosial-demokrasi ialah meresapkan proletariat (secara hurufiah: menjenuhkan proletariat) dengan kesadaran akan kedudukannya dan kesadaran akan tugasnya. Ini tak akan perlu jika kesadaran itu timbul dengan sendirinya dari perjuangan klas. Rancangan yang baru itu menjiplak dalil dalil ini dari propram yang lama, dan membubuhkannya pada dalil tersebut diatas. Tetapi ini sama sekali memutuskan jalannya pikiran….”
Karena tak mungkin ada ideologi bebas yang dikembangkan oleh massa buruh sendiri dalam proses gerakan mereka [*14], maka persoalannya hanyalah demikian : ideologi borjuis atau sosialis. Disini tak ada jalan tengah (karena umat manusia belum menciptakan ideologi “ketiga” manapun, dan lagi pada umumnya dalam masyarakat yang dikoyak-koyak oleh kontradiksi-kontradiksi klas sekali-kali tak akan ada ideologi non-klas atau diatas klas). Karena itu, setiap peremehan ideologi sosialis dan setiap penjauhan diri dari padanya berarti memperkuat ideologi borjuis.Orang berbicara tentang spontanitas, tetapi perkembangan spontan gerakan buruh menuju justru ke arah ketundukannya kepada ideologi borjuis, berjalan justru menurut program Credo, karena gerakan buruh yang spontan adalah trade-unionis, adalah Nur-Gewerkschaftlerei, sedang trade-uninis berarti pembudakan kaum buruh secara ideologi oleh borjuis. Karena itu tugas kita, tugas sosial-demokrasi, ialah memerangi spontanitas, membelokkan gerakan buruh dari aspirasi trade-unionisme yang spontan untuk berlindung dibawah sayap borjuis ini, dan menariknya ke bawah sayap sosial-demokrasi revolusioner. Karena itu kata-kata para penulis surat “ekonomi” dalam Iskra No. 12, yang menyatakan bahwa usaha-usaha yang bagaimanapun dari ideologis yang paling bersemangat tidak akan bisa membelokkan gerakan buruh dari jalan yang ditentukkan oleh saling pengaruh antara unsur-unsur materiil dengan lingkungan materiil, sepenuhnya sama dengan meninggakan sosialisme, dan sekiranya penulis-penulis surat ini sanggup mempertimbangkan apa yang mereka katakan itu dengan tiada takut, dengan konsekwen sepenuhnya, seperti yang mestinya dilakukan oleh setiap orang yang memasuki arena aktivitas kesusasteraan dan aktivitas sosial, maka bagi mereka tidak lain tinggal “mendekapkan tangan yang menganggur di dada yang kosong ” dan…. Dan menyerahkan medan aktivitas kepada tuan-tuan sebangsa Tuan Struwe dan Tuan Prokopowic yang menyeret gerakan buruh “menurut garis perlawanan sekecil-kecilnya”, yaitu menurut garis trade-unionisme borjuis, atau kepada tuan-tuan sebangsa Tuan Zubatov yang menyeretnya menurut garis “ideologi” kepadrian dan gendarme.
Ingatlah contoh Jerman. Apa jasa bersejarah Lassalle kepada gerakan buruh Jerman? Jasanya ialah bahwa dia membelokkan gerakan itu dari jalan trade-unionisme dan koperasi yang dikhotbahkan orang-orang progresis, jalan yang telah ditempuhnya secara spontan (dengan bantuan yang bersimpati dari Schulze-Delitzsch dan orang-orang sebangsa dia). Untuk memenuhi tugas ini diperlukan sesuatu yang sama sekali berlainan dengan omongan tentang peremehan unsur spontan, tentang taktik-sebagai proses, tentang saling pengaruh antara unsur-unsur dengan lingkungan dan sebagainya. Untuk itu diperlukan perjuangan mati-matian melawan spontanitas, dan hanya sesudah perjuangan demikian itu, yang dilancarkan selama bertahun-tahun, barulah dapat, misalnya, mengubah penduduk buruh Berlin dari sebagi sandaran partai progresis menjadi satu benteng terbaik sosial-demokrasi. Dan perjuangan ini sekarangpun sekali-kali belum selesai (sebagimana mungkin nampak bagi mereka yang mempelajari sejarah gerakan Jerman menurut Prokopowic, dan mempelajari filsafat gerakan Jerman menurut Struwe). Sekarangpun klas buruh Jerman, boleh dikatakan, terpecah-belah dalam beberapa ideologi: sebagian kaum buruh terorganisasi dalam serikat-serikat buruh Katolik dan monarkis, sebagian lagi terorganisasi dalam serikat-serikat Buruh Hirsch-Duncker [53], yang didirikan oleh pemuja-pemuja borjuis dari trade-unionisme Inggris, sedang sebagian lagi terorganisasi dalam serikat-serikat buruh sosial-demokratis. Bagian yang terakhir ini tak berhingga lebih banyak daripada semua lainnya, tetapi ideologi sosial-demokratis dapat mencapai keunggulan ini, dan akan dapat mempertahankannya, hanya melalui perjuangan gigih menentang semua ideologi lainnya.
Tetapi mengapa –pembaca akan bertanya– gerakan yang spontan, gerakan menurut garis perlawanan sekecil-kecilnya, menuju justru ke dominasi ideologi borjuis? Karena alasan yang sederhana yaitu bahwa ideologi borjuis jauh lebih tua menurut asal-usulnya daripada ideologi sosialis; karena ia dikembangkan secara lebih menyeluruh dan karena ia mempunyai sarana penyebaran yang tak berhingga lebih banyaknya [*15]. Dan semakin muda gerakan sosialis itu disuatu negeri, maka semakin keraslah ia harus berjuang menentang segala usaha memperkuat ideologi non-sosialis, dan semakin keraslah kaum buruh harus diperingatkan terhadap penasehat-penasehat jelek yang berteriak-teriak menentang “penilaian terlampau tinggi unsur sedar”, dan sebagainya. Penulis-penulis ekonomi itu, seirama denga Raboceye Dyelo, mengecam ketidaktoleran yang khas bagi masa kanak-kanak gerakan itu. Atas ini kita jawab: ya, gerakan kita memang masih dalam masa kanak-kananya, dan agar bisa lebih cepat dewasa, ia harus menjangkiti dengan ketidaktoleranan terhadap orang-orang yang menghambat pertumbuhannnya dengan pemujaan mereka kepada spontanitas. Tak ada yang lebih menggelikan dan lebih merugikan daripada berlagak sebagi “orang tua” yang sudah lama mengalami segala episode perjuangan yang menentukan.
Ketiga, Rabocaya Misl nomor pertama menunjukkan bahwa istilah “ekonomisme” ( yang, tentu saja, tidak kita usulkan supaya dilepaskan sebab bagaimanapun juga sebutan ini sudah berakar) tidak cukup mencerminkan hakekat aliran baru itu. Rabocaya Misl tidak menolak sama sekali perjuangan politik: dalam anggaran dasar untuk dana buruh yang dimuat dalam Rabocaya Misl No.1, ada disebut-sebut tentang perjuangan melawan pemerintah. Hanya saja Rabocaya Misl berpendapat bahwa “politik selalu mengikuti ekonomi dengan patuh” (dan Raboceye Dyelo membuat variasi dari tesis ini ketika, dalam programnya, ia mengatakan bahwa “di Rusia lebih dari negeri lain manapun, perjuangan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari perjuangan politik). Jika dengan politik itu dimaksudkan politik sosial-demokratis, maka dalil-dalil yang diajukan Rabocaya Misl dan Raboceye Dyelo itu salah sama sekali. Perjuangan ekonomi kaum buruh sering sekali berkaitan (meskipun bukan tak terpisahkan) dengan politik borjuis, politik kepaderian, dan lain-lain, sebagaimana sudah kita lihat. Dalil-dalil Raboceye Dyelo itu benar jika dengan politik itu dimaksudkan politik trade-unionis, yaitu hasrat umum semua buruh guna memperoleh dari pemerintah tindakan-tindakan tertentu untuk meringankan kesengsaraan yang menjadi ciri keadaan mereka, tetapi yang tidak melenyapkan keadaan itu, yaitu tindakan-tindakan yang tidak menghapuskan penundukkan kerja kepada kapital. Hasrat ini memang umum bagi trade-unionis Inggris yang bersikap memusuhi sosialisme, bagi kaum buruh Katolik, bagi kaum buruh “Zubatov” , dan sebagainya. Ada bermacam-macam politik. Jadi, kita lihat bahwa Rabocaya Misl lebih memuja spontanitasnya, memuja ketiadaannya akan kesadaran daripada pengingkari perjuangan politik. Walaupun mengakui sepenuhnya perjuangan politik (lebih tepat dikatakan keinginan-keinginan dan tuntutan-tuntutan politik kaum buruh), yang tumbuh secara spontan dari gerakan buruh itu sendiri, Rabocaya Misl sama sekali menolak menyusun secara bebas politik sosial-demokratis yang khas yang sesuai dengan tugas-tugas umum sosialisme dan dengan syarat-syarat dewasa ini di Rusia. Selanjutnya kita akan menunjukkan Raboceye Dyelo juga membuat kesalahan yang sama.

C. GRUP PEMBEBASAN DIRI DAN RABOCEYE DYELO [54]
Kita dengan begitu panjang lebar telah membicarakan tajuk rencana Rabocaya Misl nomor pertama yang tidak banyak diketahui dan sekarang hampir dilupakan orang, karena tajuk rencana ini paling awal dan paling menyolok menyatakan aliran pikiran yang umum yang kemudian muncul sebagi aliran-aliran kecil yang tak terhitung banyaknya. W.I sepenuhnya benar ketika, dalam memuji nomor pertama dan tajuk rencana Rabocaya Misl, dia mengatakan bahwa tajuk rencana tersebut ditulis secara “tajam dan dengan bergelora”(Listok Rabotnika No. 9-10 hal.49). Setiap orang yang percaya pada pendapatnya, yang berpendapat bahwa dia memberikan sesuatu yang baru, menulis “dengan gelora” dan dengan cara yang begitu rupa sehingga pandangan-pandangannya itu tampak menonjol. Hanyalah orang-orang yang biasa berdiri diatas dua perahu yang tidak mempunyai “gelora” sedikitpun, hanya orang-orang yang demikianlah yang bisa kemarin memuji-muji gelora Rabocaya Misl, hari ini menyerang “gelora polemik” lawan-lawan Rabocaya Misl.
Kita tidak akan membicayakan Lampiran Khusus Rabocaya Misl (nanti kita akan berkesempatan, mengenai berbagai hal, menyinggung tulisan ini, yang menyatakan ide-iede kaum ekonomis dengan konsekwen) tetapi hanya dengan singkat akan membicarakan Seruan Grup Pembebasan Diri Buruh ( Maret 1899, dimuat lagi dalam Nakanunye [55] London, No.7 Juli 1899). Penulis-penulis seruan ini tepat sekali mengatakan bahwa “kaum buruh Rusia baru saja bangun, baru saja melihat sekelilingnya, dan secara naluri mencekau alat perjuangan yang pertama dijumpai”. Tetapi di sini penulis-penulis itu menarik kesimpulan salah yang sama seperti yang di tarik Rabocaya Misl dengan melupakan bahwa kenalurian adalah kesadaran (spontanitas) yang harus dibantu oleh kaum sosialis, bahwa alat perjuangan “yang pertama dijumpai”, dalam masyarakat modern, akan selalu berupa alat perjuangan trade-unionis, dan ideologi “yang pertama dijumpai” akan berupa ideologi (trade-unionis) borjuis. Begitu juga, penulis-penulis ini tidak menolak politik, mereka hanya (hanya!) mengatakan, dengan mengulangi kata-kata yang diucapkan Tuan W.W, bahwa politik adalah bangunan atas, dan oleh karenanya, “agitasi politik harus menjadi bangunan-atas dari agitasi untuk kepentingan perjuangan ekonomi; ia harus tumbuh di atas dasar perjuangan ekonomi ini dan berjalan dibelakangnya”.
Adapun Raboceye Dyelo, ia memulai aktivitasnya langsung dengan “membela” kaum ekonomis. Ia betul-betul berbohong dalam nomor pertamanya itu juga ( No. 1, hal 141-142) ketiga ia menyatakan bahwa ia “tidak tahu kawan-kawan muda mana yang dimaksud oleh Akselrod” dalam brosurnya yang terkenal, [*16] dimana ia memperingatkan kaum ekonomis, tetapi Raboceye Dyelo dalam polemik sengit dengan Akselrod dan Plekhanov mengenai kebohongan itu, terpaksa mengakui bahwa ia “dengan menyatakan kebingungan ingin membela semua sosial-demokrat yang lebih muda di luar negeri dari tuduhan yang tidak adil” (Akselrod menuduh kaum ekonomis berpandangan cupet). Sebetulnya tuduhan ini adil sepenuhnya, dan Raboceye Dyelo tahu betul bahwa tuduhan ini antara lain menimpa juga W.I. seorang anggota dewan redaksinya. Sepintas lalu baiklah saya sebutkan bahwa dalam polemik tersebut Akselrod sepenuhnya benar dan Raboceye Dyelo sama sekali salah dalam menafsirkan brosur saya Tugas-Tugas Kaum Sosial-Demokrat Rusia [*17] . Brosur itu ditulis dalam tahun 1897, sebelum Rabocaya Misl terbit, ketika saya berpendapat, dan berhak berpendapat, bahwa haluan semula Liga Perjuangan Petersburg, yang saya lukiskan diatas, adalah haluan yang berdominasi. Dan haluan itu adalah benar-benar haluan yang berdominasi, setidak-tidaknya sampai pertengahan tahun 1898. Karena itu Raboceye Dyelo tidak berhak sedikitpun dalam usahanya membantah adanya dan bahaya ekonomisme, menunjuk kepada brosur yang menyatakan pandangan-pandangan yang didesak oleh pandangan-pandangan “ekonomis” di Petersburg dalam tahun 1897-1898 [*18]
Tetapi Raboceye Dyelo tidak hanya “membela” kaum ekonomis –ia sendiri senantiasa tergelincir kedalam kesalahan-kesalahan mereka yang fundamental. Sumber kekacauan ini terletak dalam pengertian yang bercabang mengenai tesis dalam program Raboceye Dyelo berikut: “kita anggap gejala yang paling penting dari kehidupan Rusia, gejala yang terutama akan menentukan tugas-tugas” “dan watak aktivitas kesusasteraan Perserikatan, ialah gerakan massa buruh (kursif dari Raboceye Dyelo) yang telah timbul dalam tahun-tahun belakangan ini”. Bahwasanya gerakan massa merupakan gejala yang paling penting, ini tak dapat dipertengkarkan lagi. Tetapi seluruh persoalannya ialah bagaimana memahami “penentuan tugas” oleh gerakan massa ini. Ini bisa diinterpretasi dengan dua cara: atau dalam arti pemujaan kepada spontanitas gerakan ini, artinya menurunkan peranan sosial-demokrasi menjadi pembudakan belaka kepada gerakan buruh sebagaimana adanya (interpretasi Rabocaya Misl, Grup Pembebasan Diri dan kaum ekonomis lainnya); atau dalam arti bahwa gerakan massa mengajukan kepada kita tugas-tugas baru di bidang teori, politik dan organisasi, yang jauh lebih rumit daripada tugas-tugas yang dapat memuaskan kita dalam periode sebelum timbulnya gerakan massa. Raboceye Dyelo telah dan masih cenderung justru ke interpretasi yang pertama, karena ia tidak mengatakan apapun yang tegas tentang sesuatu tugas baru, melainkan terus-menerus memperbincangkan seolah-olah “gerakan massa” ini justru membebaskan kitadari keharusan menyadari dengan jelas dan menyelesaikan tugas-tugas yang diajukannya kepada kita. Cukup ditunjukkan bahwa Raboceye Dyelo mengangap tidak mungkin menentukan penggulingan otokrasi sebagai tugas pertama gerakan massa buruh, dan bahwa ia memerosotkan tugas ini (demi kepentingan gerakan massa) menjadi tugas perjuangan untuk tuntutan-tuntutan politik yang terdekat (Jawaban, hal. 25) .
Akan kami lewati artikel B. Kricevski, redaktur Raboceye Dyelo, yang berjudul “Perjuangan Ekonomi dan Politik Dalam Gerakan Rusia”, yang dimuat dalam surat kabar itu No.7, yang mengulangi kesalahan-kesalahan [*19] itu juga, dan langsung beralih Raboceye Dyelo No.10. Tentu saja, kita tidak akan menguraikan secara terperinci berbagai kebertan yang diajukan B. Kreicevski dan Martinov terhadap Zarya dan Iskra.Yang menarik perhatian kita disini semata-mata pendirian prinsipiil yang dibentangkan oleh Raboceye Dyelo No.10. Misalnya, kita tidak akan mengupas keanehan –bahwa Raboceye Dyelo melihat suatu ‘kontradiksi yang diametral” antara dalil:
“Sosial-demokrasi tidak mengikat tangannya, tidak membatasi aktivitas-aktivitasnya pada sesuatu rencana atau metode perjuangan politik yang telah dipertimbangkan sebelumnya; ia mengakui semua alat perjuangan selama alat-alat perjuangan itu sesuai dengan kekuatan yang ada pada partai”, dan seterusnya (Iskra. No.1) [56]
dengan dalil :
“Tanpa organisasi yang kuat, yang berpengalam dalam perjuangan politik dalam segala keadaan dan dalam segala periode, maka tak mungkin berbicara tentang rencana aktivitas yang sistematis yang diterangi dengan prinsip-prinsip yang teguh dan yang dilaksanakan dengan gigih, yang merupakan satu-satunya yang patut dinamakan taktik” (Iskra No.4) [57]
Mencampuradukkan pengakuan, dalam prinsip, atas segala alat perjuangan, atas segala rencana dan metode, selama hal-hal ini bermanfaat –dengan tuntutan supaya pada saat politik tertentu kita berpedoman pada rencana yang dilaksanakan dengan teguh, jika kita hendak mempersoalkan taktik, ini berarti sama dengan mencampuradukkan pengakuan ilmu kedokteran atas berbagai cara pengobatan dengan tuntutan berpegang teguh pada satu cara pengobatan tertentu untuk penyakit tertentu. Akan tetapi soalnya ialah bahwa Raboceye Dyelo, walaupun ia sendiri mengidap penyakit yang telah kita namakan memuja-muja spontanitas, tidak mau mengakui “cara pengobatan” apapun untuk penyakit itu. Karena itu, ia telah membuat penemuan yang istimewa bahwa “taktik- sebagai rencana berkontradiksi dengan jiwa pokok Marxisme” (No. 10, hal.18), bahwa taktik adalah “proses pertumbuhan tugas-tugas Partai yang tumbuh bersama dengan Partai” (hal.11, kursif dari Raboceye Dyelo). Ucapan yang terakhir ini mempunyai segala kemungkinan untuk menjadi peribahasa yang terkenal, suatu monumen yang abadi bagi “aliran” Raboceye Dyelo. Atas pertanyaan : kemana? Suatu organ pimpinan menjawab: gerakan adalah proses perubahan jarak antara titik pangkal dan titik-titik berikutnya gerakan itu. Tetapi kedalaman yang tiada tolok taranya ini bukan hanya suatu keanehan (jika demikian halnya, tak akan ada gunanya dibicarakan secara khusus), melainkan juga merupakan program seluruh aliran, yaitu program itu juga yang dinyatakan oleh R.M (dalam Lampiran Khusus Rabocaya Misl) dengan kata-kata: perjuangan yang dikehendaki ialah perjuangan yang mungkin dan perjuangan yang mungkin adalah perjuangan yang berlaku pada saat tertentu. Inilah justru aliran opurtunisme yang terbatas, yang seecara pasif menyesuaikan diri dengan spontanitas.
“Taktik- sebagai rencana berkontradiksi dengan jiwa pokok Marxisme!” Sungguh, ini adalah fitnahan terhadap Marxisme; ini berarti mengubahnya menjadi karikatur Marxisme yang dihadapkan kepada kita oleh kaum Narodnik dalam perang mereka melawan kita. Ini berarti meremehkan inisiatif dan enerzi aktivis-aktivis yang sadar, padahal Marxisme, sebaliknya, memberikan dorongan raksasa kepada inisiatif dan enerzi sosial-demokrat, membukakan baginya perspektif-perspektif yang seluas-luasnya dan (jika orang boleh menyatakan begitu) menyediakan untuknya kekuatan perkasa berjuta-juta orang dari klas buruh yang “secara spontan” bangkit berjuang! Seluruh sejarah sosial-demokrasi internasional penuh dengan rencana-rencana yang diajukan kadang-kadang oleh satu pimpinan politik, kadang-kadang oleh pimpinan politik lainnya; ada yang membenarkan pandangan jauh dan ketepatan pandangan politik dan organisasi dari pimpinan politik yang satu dan ada yang memperlihatkan kecupetan serta satu titik balik yang paling penting dalam sejarahnya –terbentuknya Kerajaan, pembukaan Reichstag dan pemberian hak pilih umum — Liebknecht mempunyai satu rencana untuk politik dan pekerjaan sosial demokratis pada umumnya dan Schwetzer mempunyai rencana lain. Ketika Undang-Undang Anti Sosialis menyerang kaum Sosialis Jerman, Most dan Hasselmann mempunyai satu rencana, mereka siap seketika itu juga menyerukan dilakukannya kekerasan dan teror; Hochberg, Schraman dan (sebagian) Bernstein mempunyai rencana lain, mereka mulai mengkhotbahkan kepada kaum sosial-demokrat bahwa mereka sendirilah dengan kekasaran dan kerevolusioneran yang keterlaluan yang telah memprovokasi pengundangan Undang-Undang itu, dan sekarang harus bertingkah laku yang patut menjadi teladan untuk memperoleh maaf; rencana yang ketiga ialah yang diajukan oleh mereka yang mempersiapkan dan melaksanakan penerbitan organ ilegal. Tentu saja mudah, dalam menoleh kembali, bertahun-tahun sesudah perjuangan mengenai masalah pemilihan jalan terakhir dan sesudah sejarah menjatuhkan putusannya yang terakhir mengenai ketepatan jalan yaang telah terpilih, mengucapkan pepatah yang mendalam tentang pertumbuhan tugas-tugas Partai yang tumbuh bersama dengan partai. Tetapi pada saat kekalutan [*20], ketika “kritikus-kritikus” dan kaum ekonomis Rusia memerosotkan sosial demokrat ke tingkat trade-unionisme, dan ketika kaum teroris semakin kuat mengkhotbahkan diterimanya “taktik-sebagai-rencana” yang mengulangi lagi kesalahan-kesalahan lama, pada saat demikian itu, bila membatasi diri pada kedalaman-kedalaman itu, berarti memberi kepada diri sendiri “surat keterangan tentang kemiskinan”. Pada saat banyak orang sosial-demokrat Rusia di hinggapi justru kelangkaan inisitif dan enerzi, dihinggapi kelangkaan “ruang lingkup propaganda politik, agitasi politik dan organisasi politik” [*21], kelangkaan “rencana” untuk mengorganisasi pekerjaan revolusioner secara lebih luas, bila pada saat yang demikian mengatakan: “taktik-sebagai rencana berkontradiksi dengan jiwa pokok Marxisme” berarti tidak hanya memvulgarkan Marxisme di bidang teori, tetapi juga menyeret Partai mundur dalam praktek.
Raboceye Dyelo seterusnya menggurui kita :
“Tugas orang revolusioner sosial-demokrat hanyalah mempercepat perkembangan objektif dengan pekerjaannya yang secara sadar, tetapi bukan meniadakannya atau menggantinya dengan rencana-rencana subyektif. Iskra tahu semua ini dalam teori. Tetapi arti penting mahabesar yang secara tepat diberikan Marxisme kepada pekerjaan revolusioner yang sadar menyebabkan Iskra dalam praktek, karena padangannya yang dokriner tentang taktik, meremehkan arti penting unsur obyektif atau spontan perkembangan” (hal.18).
Satu contoh lagi tentang kekalutan teori yang luar biasa yang sudah sepatutnya bagi Tuan W.W dan kelompoknya. Kita akan bertanya kepada ahli filsafat kita: dalam hal apa dapat tercermin “peremehan” perkembangan obyektif dari pihak penyusun rencana-rencana yang subyektif? Jelas, dalam hal bahwa ia mengabaikan kenyataan bahwa perkembangan obyektif ini menciptakan atau memperkuat, menghancurkan atau melemahkan klas-klas, lapisan-lapisan, golongan-golongan tertentu, bangsa-bangsa, kelompok-kelompok bangsa tertentu, dsb, dengan begitu menjadi syarat bagi pengelompokan kekuatan-kekuatan politik internasional tertentu, bagi penentuan pendirian partai-partai revolusioner, dan sebagainya. Tetapi jika demikian, maka kesalahan penyusun rencana-rencana itu bukanlah dalam hal meremehkan unsur spontan melainkan sebaliknya, dalam hal meremehkan unsur sadar, karena dia tidak mempunyai cukup “kesadaran” untuk memahami secara tepat perkembangan obyektif. Karena itu omongan tentang “penilaian arti “relatif” (krsif dari Raboceye Dyelo) spontanitas dan kesadaran itu saja sudah menyingkapkan ketiadaan “kesadaran” sama sekali . Jika “unsur-unsur spontan perkembangan” tertentu dapat ditangkap oleh kesadaran manusia pada umumnya, maka penilaian yang tidak tepat mengenai unsur-unsur spontan itu akan sama saja dengan “meremehkan unsur sadar”. Tetapi jika unsur-unsur spontan itu tidak dapat ditangkap oleh kesadaran, maka kita tak dapat mengetahuinya, dan tidak dapat membicarakannya. Jadi apakah yang dipercakapkan oleh B. Kreicevski itu? Jika dia berpendapat bahwa “rencana-rencana subyektif” Iskra itu salah (dan dia justru menyatakan rencana-rencana subyektif itu salah), maka dia semestinya menunjukkan kenyataan-kenyataan obyektif apa yang diabaikan dalam rencana-rencana ini, dan kemudian menuduh Iskra tidak mempunyai cukup kesadaran karena mengabaikannya dan menuduh Iskra, menggunakan kata-kata dia sendiri, “meremehkan secara sadar”. Tetapi jika dia, walaupun tidak puas dengan rencana-rencana subyektif, tidak mempunyai argumen lain kecuali kutipan “meremehkan unsur spontan” (!!), maka dia dengan itu hanya membuktikan bahwa : 1) secara teori dia memahami Marxisme ala orang-orang sebangsa Kareyev dan Mikhailovski yang sudah cukup di cemooohkan oleh Beltov [58], dan 2) dalam praktek, dia sepenuhnya puas dengan “unsur-unsur spontan perkembangan” yang telah membawa kaum Marxis legal kita ke Bernsteinisme dan membawa kaum sosial-demokrat kita ke ekonomisme, dan bahwa dia “sangat marah” kepada orang-orang yang telah bertekad bulat bagaimanapun juga akan membelokkan sosial-demokrasi Rusia dari jalan perkembangan “spontan”.
Dan kemudian menyusullah hal-hal yang sungguh lucu. “Persis seperti manusia-manusia akan berbiak dengan cara kuno, kendatipun segala sukses ilmu pengetahuan alam, demikian pulalah kelahiran sistem masyarakat baru, dimasa depan juga., terutama sebagai akibat ledakan-ledakan spontan, kendatipun segala sukses ilmu-ilmu sosial dan pertambahan jumlah pejuang yang sadar” (hal.19). Persis seperti kata arif bijaksana kuno yang berbunyi: “Setiap orang tolol dapat melahirkan anak”, kata arif bijaksana kaum “sosialis modern” (a la Narcissus Tuporilov [59]) juga berbunyi: setiap orang tolol dapat ikut serta dalam kelahiran spontan sistem masyarakat baru. Kita juga berpendapat demikia. Untuk keikutsertaan semacam itu cukuplah menyerah kepada ekonomisme ketika ekonomisme berkuasa, dan menyerah kepada terorisme ketika terorisme merajalela. Misalnya, dalam musim semi tahun ini, ketika begitu penting memperingatkan orang supaya jangan tergila-gila akan terorisme, Raboceye Dyelo bengong dihadapan masalah yang “baru” baginya itu. Dan sekarang, enam bulan sesudah itu, ketika masalah tersebut telah menjadi kurang aktual, ia sekaligus menyodorkan kepada kita pertanyaan : “kita berpendapat bahwa tidak mungkin dan tidak seharusnya tugas sosial-demokrasi menghalang-halangi kebangkitan semangat teroris”(Raboceye Dyelo, No.10, hal 23)., juga resolusi Kongres: “Kongres menganggap teror yang sistematis dan ofensif sebagai tak tepat pada waktunya (Dua Kongres, Hal.18). Betapa terang dan sambung-menyambung! Jangan menghalang-halangi, tetapi menyatakan sebagai tak tepat pada waktunya, dan menyatakannya dengan begitu rupa sehingga teror yang sistematis dan defensif tidak termasuk dalam ruang lingkup “resolusi” itu. Haruslah diakui bahwa resolusi semacam itu sangat aman dan sepenuhnya terjamin terhadap kesalahan, seperti orang yang berbicara tetapi tidak mengatakan apa-apa itu terjamin terhadap kesalahan! Dan apa yang dibutuhkan untuk menyusun resolusi semacam itu hanyalah: kecakapan untuk mengekor di belakang gerakan. Ketika Iskra mentertawakan Raboceye Dyelo karena menyatakan soal teror sebagi suatu soal baru, maka ia dengan marah menuduh Iskra “luar biasa kurang ajarnya karena memaksakan pada organisasi Partai pemecahan soal-soal taktik yang diusulkan oleh sekelompok penulis emigran lebih dari lima belas tahun yang lalu” (hal.24). Memang, alangkah kurang ajarnya dan alangkah dibesar-besarkannya unsur sadar –mula-mula secara teori memecahkan masalah-masalah, kemudian meyakinkan organisasi, Partai dan Massa akan ketepatan pemecahan itu! [*22]. Akan lebih baik jika sekadar mengulang-ulang sesuatu yang telah hafal dan tanpa “memaksakan” sesuatu pada siapapun juga, tunduk pada setiap “pembelokan” baik ke jurusan ekonomisme ataupun ke jurusan terorisme. Raboceye Dyelo bahkan menggeneralisasi petuah besar dari kebijaksanaan duniawi ini dan menuduh Iskra serta Zarya “mempertentangkan program mereka dengan gerakan seperti roh yang melayang-layang diatas kekacauan yang tak berbentuk”, (hal.29). Tetapi apa lagi fungsi sosial-demokrasi jika bukan sebagai “roh”, yang tidak hanya melayang-layang diatas gerakan spontan, tetapi juga meningkatkan gerkan ini ke tingkat “programnya”? Tentulah, bukan pula fungsinya mengekor di belakang gerakan: paling banter, ini tidak akan ada gunanya bagi gerakan: paling buruk ia akan sangat, sangat merugikan. Tetapi Raboceye Dyelo tidak hanya mengikuti “taktik-sebagai-proses” ini, bahkan mengangkatnya menjadi suatu prinsip, sehingga lebih tepatlah menamakan haluan Raboceye Dyelo bukan oportunisme, melainkan ekorisme (dari kata ekor). Dan haruslah diakui bahwa orang-orang yang telah bertekad untuk selalu membuntut dibelakang gerakan dan menjadi ekornya, selama-lamanya dan mutlak tidak bisa “meremehkan unsur spontan perkembangan”.
* * *

Demikianlah, kita sudah menjadi yakin bahwa kesalahan pokok “aliran baru” dalam sosial demokrasi Rusia berupa pemujaan kepada spontanitas, dan ketidakmengertian bahwa spontanitas massa menuntut kesadaran besar-besaran dari kita kaum sosial-demokrat. Semakin besar kebangkitan spontanitas dari massa, semakin meluaslah gerakan, maka semakin cepat lagi dengan tiada bandingnya bertambah besarnya tuntutan akan kesadaran yang besar-besaran dalam pekerjaan teori, politik dan organisasi dari sosial-demokrasi.
Kebangkitan spontan massa di Rusia telah (dan terus) berlangsung dengan kecepatan sedemikian rupa sehingga pemuda sosial-demokrat ternyata belum dipersiapkan untuk menunaikan tugas-tugas raksasa ini. Ketidaksiapan ini merupakan kemalangan kita bersama, kemalangan semua orang sosial-demokrat-Rusia. Kebangkitan massa meluas dan berlangsung dengan tak putus-putusnya dan sambung-bersambung; ia bukan hanya tidak berhenti di tempat-tempat di mana ia telah mulai, tetapi melanda tempat-tempat baru dan lapisan-lapisan baru penduduk (di bawah pengaruh gerakan buruh telah hidup kembali gejolak di kalangan pemuda-pelajar, kaum intelektual pada umumnya dan bahkan dikalangan kaum tani). Akan tetapi kaum revolusioner ketinggalan di belakang kebangkitan ini baik dalam “teori-teori” mereka maupun dalam aktivitas mereka; mereka gagal mendirikan organisasi yang tak putus-putusnya dan yang sambung-bersambung, yang sanggup memimpin seluruh gerakan.
Dalam Bab I telah kami buktikan bahwa Raboceye Dyelo meremehkan tugas-tugas teori kita dan bahwa ia “secara spontan” mengulang-ulangi semboyan yang sedang menjadi mode “kebebasan mengkritik”; bahwa mereka yang mengulang-ulangi semboyan ini tidak mempunyai cukup “kesadaran” untuk memahami pertentangan yang diametral antara pendirian para “kritikus” oportunis dengan pendirian kkaum revolusioner di Jerman dan di Rusia.
Dalam bab-bab yang berikut akan kita bahas bagaimana pemujaan kepada spontanitas ini mendapatkan perwujudannya di bidang tugas-tugas politik dan pekerjaan organisasi dari sosial-demokrasi.
________________________________________
Catatan:
[*1] Raboceye Dyelo no.10, September 1901, hlm. 17-18 Kursif dari Raboceye Dyelo.
[*2]Trade-unionis tidak menutup pintu sama sekali terhadap politik sebagaimana kadang-kadang diduga orang. Trade-unionis selalu melakukan agitasi dan perjuangan politik tertentu (tetapi bukan agitasi dan perjuangan politik sosial-demokratis). Dalam bab berikutnya kita akan membicarakan perbedaan antara politik trade-unionis dengan politik sosial-demokratis.
[44] Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh Petersburg dibentuk oleh W. I. Lenin dalam musim rontok tahun 1895 dan mempersatukan semua lingkaran buruh Marxis di Petersburg. Ia dipimpin oleh suatu Grup Sentral di bawah pimpinan Lenin. Liga Perjuangan itu adalah organisasi pertama di Rusia yang mengkombinasi sosialisme dengan gerakan buruh dan beralih dari mempropagandakan Marxisme di kalangan selingkaran kecil kaum buruh yang maju ke agitasi politik di kalangan massa luas klas buruh.
“Arti penting Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh Petersburg terletak dalam kenyataan bahwa ia, sebagaimana kata Lenin, merupakan embrio pertama yang sesungguhnya dari partai revolusioner yang didukung oleh gerakan buruh”.
[*3] A.A wanayev meninggal di Siberia Timur pada tahun 1899 karena penyakit TBC yang diidafnya selama dikurung tersendiri dalam penjara sebelum perang. Karena itu kita berpendapat keterangan diatas boleh disiarkan, yang kita jamin kebenarannya karena ia berasal dari orang-orang yang secra langsung dan dekatnya mengenal A.A. Wanayev.
[45] Ruskaya Starina– majalah bulanan tentang sejarah, terbit di Petersburg dari tahun 1870 sampai 1918.
[*4] Lihat Kumpulan karya, edisi Rusia ke-4, Jilid 2, hal.71-76—red.
[46] Obskurantisme– sikap yang bermusuhan terhadap pencerahan dan kemajuan, semangat yang menghambat kemajuan.
[47] S. Petesburgski Raboci Listok (Lembaran Buruh Petersburg)– surat kabar ilegal, organ Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh Petersburg. Terbit dua nomor: No. 1 dalam bulan Februari (bertanggal Januari) 1897 (distensil di Rusia sebanyak 300-400 eksemplar); dan No. 2 dalam bulan September 1897 di Jenewa.
[*5] “Ketika bersikap negatif terhadap aktivitas-aktivitas sosial demokrat pada akhir tahun-tahun 90-an, Iskra mengabaikan tidak adanya syarat-syarat pada waktu itu untuk pekerjaan lain kecuali perjuangan untuk -tuntutan-tuntutan kecil”. Demikian kaum ekonomis menerangkan dalam surat mereka yaitu Surat Kepada Organ-Organ Sosial-Demokrat Rusia (Iskra No.12). Kenyataan-kenyataan yang dikutip diatas membuktikan bahwa pernyataan tentang “tidak adanya syarat-syarat” bertentangan sama sekali dengan kebenaran. Tidak hanya pada akhir, tetapi bahkan pada pertengahan tahun-tahun 90-an, semua syarat untuk pekerjaan lain sudah ada selain perjuangan untuk tuntutan-tuntutan kecil, semua syarat sudah ada –kecuali latihan yang cukup bagi para pemimpin. Bukannya terus terang mengakui tidak cukupnya latihan pada pihak kita, para ideologis, para pemimpin –kaum “ekonomis” hendak melempaskan semua kesalahan pada “tidak adanya syarat-syarat”, pada pengaruh lingkungan materiil yang menentukan jalan, yang dari jalan ini tak seorang idiologis pun akan mungkin membelokkan gerakan. Apa ini kalau bukan membungkuk-bungkuk kepada spontanitas, kalau bukan kegila-gilaan para ideologis akan kekurangan kekurangan mereka sendiri?
[48] Rapat khusus yang dimaksudkan Lenin diadakan di Petersburg antara tanggal 14 dan 17 Februari (26 Februari dan 1 Maret) 1897. rapat ini dihadiri oleh W. I. Lenin, A. A. Waneyev, G. M. Krzyizyanovski dan anggota-anggota lainnya dari Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh Petersburg, yaitu “veteran-veteran” yang telah dikeluarkan dari penjara selama tiga hari sebelum dikirim ke pembuangan Siberia dan “orang-orang muda” yang memimpin Liga Perjuangan sesudah Lenin ditangkap.
[49] Listok Rabotnika (Lembaran Pekerja)– diterbitkan di Jenewa oleh Perserikatan Kaum Sosial-Demokrat Rusia Di Luar Negeri dari tahun 1896-1899. Terbit sepuluh nomor. No. 1 sampai No. 8 diedit oleh grup Pembebasan Kerja. Karena mayoritas anggota Perserikatan memebelok ke “ekonomisme”, maka grup Pembebasan Kerja menolak untuk terus mengedit penerbitan-penerbitannya. No. 9- No. 10 diterbitkan oleh dewan redaksi baru yang dibentuk oleh Perserikatan.
[50] Artikel W.I.– yang dimaksud ialah artikel W. P. Iwansyin.
[*6]Sambil lalu perlu dinyatakan bahwa pujian-pujian kepada Rabocaya Misldalam bulan November 1898, pada waktu ekonomisme, terutama diluar negeri, telah terbentuk sepenuhnya, berasal dari W.I itu juga yang tak lama kemudian menjadi salah seorang redaktur dari Raboceye Dyelo. Namun Raboceye Dyelo tetap tidak mengakui adanya dua aliran dalam sosial-demokrasi Rusia dan terus tidak mengakuinya hingga kini!
[51] Gendarme-gendarme tsar mengenakan baju seragam bermanset biru.
[*7]Bahwasanya kiasan ini benar, dapat dilihat dari kenyataan khas yang berikut. Ketika, sesudah penangkapan atas diri kaum “Desembris”, tersiar berita dikalangan kaum buruh di Jalan Schusselburg bahwa penangkapan itu terjadi atas bantuan seorang provokator N.N. Mikhailov (seorang dokter gigi) yang dekat dengan salah satu dari grup-grup yang berhubungan dengan kaum Desembris, kaum buruh menjadi begitu marah sehingga mengambil keputusan membunuh Mikhailov.
[*8]Kutipan-kutipan ini diambil dari tajuk rencana dalam nomor pertama Rabocaya Misl itu juga. Dari sini orang dapat menilai taraf teori yang dimiliki oleh “W.W. dari sosial-demokrasi Rusia”[52], yang terus mengulang-ulangi pemvulgaran secara kasar “meterialisme ekonomi” pada waktu dalam literatur terjadi perang kaum Marxis menentang Tuan W.W yang sebenarnya, yang sudah lama dijuluki “ahli urusan reaksioner”, karena mempunyai pandangan-pandangan yang serupa mengenai hubungan antara politik dengan ekonomi!
[52] W. W. –nama samaran W. P. Worontstov, salah seorang ideologis dari Narodisme liberal dalam tahun-tahun 80-an dan 90-an abad ke-19. Kata-kata Lenin “W. W. dari sosial-demokrasi Rusia” merupakan sindiran untuk kaum “ekonomis” yang mewakili aliran oportunis dalam sosial demokrasi Rusia.
[*9] Orang-orang Jerman bahkan mempunyai kata khusus : “Nur-Gewerkschafter”, yang artinya pembela perjuangan “serikat buruh semata-mata”
[*10] Kita tekankan kata kata dewasa ini untuk dialamatkan kepada mereka yang mungkin secara munafik mengangkat bahu seraya berkata: sungguh mudah sekarang mencaci-maki Rabocaya Mils, tetapi kan hanya sesuatu yang sudah usang! Mutato nomine de te fabula narratur (ubahlah namanya maka kisah itu mengenai dirimu.–Red), demikianlah jawaban kita kepada kaum munafik dewasa ini yang semacam itu yang ketundukannya sama-sekali kepada ide-ide Rabocaya Misl akan dibuktikan berikut ini.
[*11] Surat kaum “ekonomis” dalam Iskra No.12.
[*12] Raboceye Dyelo No.10
[*13] Neue Zeit (Zaman Baru. –red) 1901-1902, XX, I, No.3 hlm 79. Rancangan komisi yang dibicarakan K. Kautsky itu diterima oleh Kongres Wina (pada akhir tahun lalu) dalam bentuk yang sedikit diubah.
[*14] Ini sudah barang tentu tidaklah berarti bahwa kaum buruh tidak ambil bagian dalam menciptakan ideologi demikian itu. Tetapi mereka ambil bagian itu bukan sebagai kaum buruh, melainkan sebagai ahli-ahli teori sosialisme, sebagai orang-orang sebangsa Proudhon dan sebangsa Waitling; dengan kata lain, mereka ambil bagian hanya apabila dan sejauh mereka mampu. Sedikit atau banyak, menguasai pengetahuan pada zaman mereka dan mendorong maju pengetahuan. Dan agar kaum buruh dapat melakukan ini lebih sering, maka perlu dilakukan segala usaha guna meningkatkan taraf kesadaran kaum buruh pada umumnya; kaum buruh jangan membatasi diri pada bingkai “literatur untuk kaum buruh” yang dipersempit secara dibuat-buat, tetapi harus belajar menguasai semakin banyak literatur umum. Bahkan akan lebih tepat jika dikatakan bukannya “membatasi diri” tetapi dibatasi, karena kaum buruh sendiri membaca dan ingin membaca semua yang ditulis untuk intelegensia dan hanya beberapa orang intelektual (yang jelek) yang berpendapat bahwa “bagi kaum buruh” cukuplah diceritai tentang keadaan-keadaan pabrik dan diulang-ulang saya yang sudah lama diketahui.
[53] Serikat-Serikat Buruh Hirsch-Duncker– didirikan oleh borjuis-borjuis liberal Hirsch dan Duncker dalam tahun 1868 di Jerman. Hirsch dan Duncker mengkhotbahkan “kerukunan kepentingan-kepentingan klas”, menyelewengkan buruh dari perjuangan klas revolusioner melawan borjuasi, membatasi tugas-tugas gerakan serikat buruh pada bingkai tugas-tugas di bidang dana saling bantu dan organisasi pendidikan-kebudayaan.
[*15] Sering dikatakan: Klas buruh secara spontan condong kepada sosialisme. Itu sepenuhnya benar dalam arti bahwa teori sosialis menentukan sebab-sebab kesengsaraan klas buruh dengan lebih mendalam dan lebih tepat daripada teori lain manapun juga, dan karena itu kaum buruh dapat mencernakannya dengan begitu mudah akan tetapi asal saja teori ini sendiri tidak menyerah kepada spontanitas, asalkan ia membuat spontanitas tunduk padanya. Biasanya ini diterima sebagi benar, tetapi justru inilah yang dilupakan atau diputarbalikkan oleh Raboceye Dyelo. Klas buruh secar spontan condong kepada sosialisme, tetapi sungguhpun demikian ideologi burjuis yang lebih tersebar luas ( dan terus-menerus dihidupkan kembali dalam bentuk-bentuk yang sangat beraneka warna) secara spontan lebih-lebih lagi mendesakkan diri pada klas buruh.
[54] Grup Pembebasan Diri Buruh— satu grup kecil orang-orang “ekonomis yang dibentuk di Petersburg dalam musim rontok tahun 1898. Grup ini yang bereksistensi hanya beberapa bulan saja, mengeluarkan sebuah manifesto yang memaparkan tujuan-tujuannya (dimuat dalam Nakanunye, majalah yang terbit di London), susunan anggaran dasar dan beberapa surat sebaran untuk disebarkan di kalangan buruh.
[55] Nakanunye (Menyongsong)– majalah dari aliran Narodnik yang terbit dalam bahasa Rusia di London dari bulan Januari 1899 samapai Februari 1902. terbit 37 nomor. Nakanunye menghimpun di sekitarnya wakil-wakil berbagai partai borjuis kecil.
[*16] Tentang Masalah Tugas-Tugas dan Taktik kaum Sosial Demokrat Rusia Dewasa ini, Jenewa 1898. Dua pucuk surat yang ditulis kepada Rabocaya Gazeta dalam tahun 1897.
[*17] Lihat Kumpulan Karya, edisi Rusia ke-4 Jilid 2, hal.299-326 –Red.
[*18] Dalam membela kebohongannya yang pertama (“kita tak tahu kawan-kawan muda mana yang dimaksud oleh P. B. Akselrod”) Raboceye Dyelo menambah dengan kebohongan yang kedua, ketika dalam jawabannya ia menulis: “Sejak tinjauan tentang Tugas-Tugas diterbitkan, dikalangan orang-orang sosial-demokrat Rusia tertentu telah timbul atau kecendrungan-kecendrungan ke arah keberatsebelahan ekonomi, yang merupakan langkah mundul dari keadaan gerakan kita sebagaimana dilukiskan dalam Tugas-Tugas (hal.9). Inilah yang dikatakan Jawaban itu, yang dimuat dalam tahun 1900. Tetapi Raboceye Dyelo nomor pertama (yang memuat tinjauan itu) terbit dalam bulan April 1899. Apakah ekonomisme itu baru timbul dalam tahun 1899? Tidak, dalam tahun 1899 terdengar protes pertama kaum sosial demokrat Rusia terhadap ekonomisme (protes terhadap Credo). Ekonomisme timbul dalam tahun 1897, sebagaimana Raboceye Dyelo tahu betul, karena sudah pada bulan November 1898, W.I. Memuji Rabocaya Misl (lihat Listok Rabotnika No.9-10)
[*19] “Teori tingkat-tingkat” atau teori “lika-liku yang takut takut-takut” dalam perjuangan politik dinyatakan, misalnya dalam artikel ini demikian: “Akan tetapi tuntutan-tuntutan-tuntutan politik, yang menurut wataknya adalah umum bagi seluruh Rusia, harus mula-mula” (ini ditulis dalam bulan Agustus 1900!) ” sesuai dengan pengalaman yang diperoleh lapisan tertentu”(sic!). “kaum buruh dari perjuangan ekonomi. Hanya (!) atas dasar pengalaman inilah agitasi politik dapat dan harus dimulai”, dan seterusnya.(hal.11). Pada halaman 4 sipenulis ketika menyanggah apa yang dianggapnya sebagai tuduhan yang sama sekali tidak beralasan yaitu tuduhan sebagai bid’ah ekonomis, dengan mengharukan berseru : “Sosial-demokrat mana sih yang tidak tahu bahwa menurut ajaran Marx dan Engels kepentingan-kepentingan ekonomi dari berbagai klas memainkan peranan yang menentukan dalam sejarah dan, karenanya, bahwa terutama perjuangan proletariat untuk kepentingan-kepentingan ekonominya harus mempunyai arti penting nomor satu bagi perkembangan klasya dan perjuangannya untuk pembebasan ?”(Kursif dari kami). Kata “karenanya”sama sekali tidak pada tempatnya. Dari kenyataan bahwa kepentingan-kepentingan ekonomi memainkan peranan yang menentukan sekali-kali tidak seharusnya ditarik kesimpulan bahwa perjuangan ekonomi (yaitu, perjuangan serikat buruh) mempunyai arti penting nomor satu, karena kepentingan-kpentingan yang paling pokok, yang “menentukan” dari klas-klas dapat dipenuhi hanya dengan perubahan-perubahan politik yang radikal pada umumnya; terutama kepentingan-kpentingan ekonomi yang pokok dari proletariat dapat dipenuhi hanya dengan revolusi politik yang akan mengganti diktatur borjuasi dengan diktatur proletariat. B. Kreicevski mengulangi argumen-argumen “W.W. dari sosial-demokrasi Rusia” (yaitu, politik mengikuti ekonomi dan lain-lain) dan argumen-argumen kaum Bernsteinis dari sosial-demokrasi Jerman (misalnya, justru dengan argumen semacam ini. Woltmann mencoba membuktikan bahwa kaum buruh pertama-tama harus memperoleh “kekuatan ekonomi” sebelum memikirkan revolusi politik).
[56] W. I. Lenin, Kumpulan Karya, edisi Rusia ke-4, Moskow, 1946, Jilid 4, hlm. 345-346.
[57] Ibid, Jilid 5, hlm. 6.
[*20] “Ein Jahr der Verwirrung” (“Tahun Kekalutan”) adalah judul yang diberikan oleh Mehring pada bab dalam bukunya Sejarah Sosial-Demokrasi Jerman dimana ia melukiskan keragu-raguan dan ketiadaan kebulatan tekad yang mula-mula dipertunjukan oleh kaum sosialis dalam memilih “taktik-sebagai-rencana” yang sesuai dengan syarat-syarat baru.
[*21] dari tajuk rencana Iskra No. 1 (Lihat Kumpulan Karya, edisi Rusia ke-4, Jilid 4, hal.344 -Red)
[58] Dengan nama samaran N. Beltov, G. W. Plekhanov menerbitkan bukunya yang terkenal Tentang Perkembangan Pandangan Monistik Mengenai Sejarah, yang terbit secara legal di Petersburg dalam tahun 1895.
[59] Yang dimaksud ialah sajak satiris “Lagu Pujian Sosialis Rusia Supra-Modern” oleh Y. O. Martov, yang dimuat dalam Zarya No. , April 1901, dengan bertanda tangan “Narcissus Tuporilov”. Sajak ini memperolok-olok kaum “ekonomis” dan penyesuaian diri mereka dengan gerakan spontan.
[*22] Jangan dilupakan pula bahwa dalam memecahkan “secara teori” masalah teror, grup Pembebasan Kerja menggeneralisasi pengalaman gerakan revolusioner yang terdahulu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s