Rhida hanafie's Blog

ketulusan adalah kesempurnaan..

AGAMA DALAM PANDANGAN POSTMODERNISME 8 Februari 2010

Filed under: 1 — rhidahanafie @ 9:55 am

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan Sains modern yang cenderung didominasi oleh analisis logis yang menolak tiap pembicaraan penuh makna tentang spiritual serta menganggap pembicaraan metafisika adalah omong kosong menghasilkan berbagai ragam pemikiran dan filsafat. Pemikirannya kemudian melahirkan ragam teknologi luar biasa yang mampu menghubungkan orang dari berbagai dunia, dengan satelitnya dan berbagai perangkat teknologi informasi. Patricia Aburden dalam megatrend 2000 menyebut dunia sebagai global village atau desa Global.
Orang-orang dari berbagai dunia kini bisa terhubung dengan mudah, dunia menjadi tanpa batas, letak geografis, lautan dan terpisahnya benua tidak menjadi halangan. Budaya dari berbagai peradaban pun tercampur aduk dalam satu nuansa, budaya global, atau dalam istilah Samuel P. Huntington di sebut sebagai universalisme budaya; Budaya pemikiran yang sering dicirikan dengan dominasi rasio, budaya fesyen, ekonomi kapitalis, free sex, eksploitasi Sumber daya alam, narkoba, globalisasi bola, gerakan feminsime ekstrim, terkuburnya spiritualisme dan juga religiusitas dan lain sebagainya.
Kaum modernis menganggap bahwa teknologi akan menjadi sumber kebahagiaan manusia dan menjanjikan dunia yang lebih baik. Namun, hal itu tidak berlangsung lama,sampai kemudian ditemukan juga begitu banyak dampak negatif dari ilmu pengetahuan bagi dunia. Teknologi mutakhir ternyata sangat membahayakan dalam peperangan dan efek samping kimiawi justru merusak lingkungan hidup. Dengan demikian, mimpi orang-orang modernis ini tidaklah berjalan sesuai harapan dan berakhir dengan kehancuran manusia itu sendiri.
Selain itu, kecenderungan modernisme memunculkan berbagai persoalan; bangkrutnya ekonomi dunia, globalisai penyakit aids yang sampai saat ini belum ada obatnya, individualism dan kehampaan jiwa-penyakit, global warming, kerusakan ekologi, hilangnya keunikan budaya dan tradisi local serta pencurian aset budaya. Berbagai persoalan ini pada akhirnya mendorong sebuah kritik pemikiran atas berbagai kemelut yang terjadi dalam dunia yang semakin sempit dan sesak ini, yaitu arus pemikiran postmodernisme.

B. Tujuan
1. Memenuhi nilai Ujian Akhir Semester mata kuliah Pengantar Fisafat dan Pemikiran Modern.
2. Ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan postmodernisme.
3. Ingin mengetahui apa saja yang menyebabkan munculnya postmoderenisme.
4. Ingin mengetahui asas pemikiranpostmodernisme.
5. Ingin mengetahui kondisi agama diera postmdernisme.
6. Ingin mengetahui agama dalam pandangan postmodernisme.
C. Permasalahan
Dalam karya tulis ini saya mengangkat beberapa permasalahan yakni :
1. Apakah yang dimaksud dengan postmodernisme ?
2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan munculnya postmodernisme ?
3. Apakah yang menjadi asas pemikiran postmodernisme ?
4. Bagaimana agama dalam pandangan postmodernsme ?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Postmodernisme
Terdapat beberapa pengertian tentang Postmodernisme oleh beberapa para ahli yang dikutip berdasarkan situs http://www.surabayapost.co.id dalam bahasan Manifesto Postmodernisme diantaranya :
1. Menurut Tony Cliff, definisi postmodernisme adalah sebagai The theory of rejecting theories.
2. Menurut Chuck Colson, mengungkapkan postmodernisme sebagai A generation raised on channel-surfing has lost the capacity for linear thinking and analytical reasoning.
3. Menurut Al Gore (mantan wakil presiden Amerika Serikat), mengatakan postmodernisme, It’s the combination of narcissism and nihilism that really defines postmodernism.
4. Menurut Barry Lewis dan Kazuo Ishiguro, postmodernisme sebagai Postmodernist fiction is defined by its temporal disorder, its disregard of linear narrative, its mingling of fictional forms and its experiments with language.
5. Menurut Moe Syslak, mengungkapkan postmodernisme Weird for the sake of weird.
6. Menurut Denzin, bahwa dalam pandangan teori postmodernisme, upaya kita untuk memenuhi peran yang dirancangkan untuk kita oleh masyarakat, menyebabkan individualitas kita digantikan oleh kumpulan citra diri yang kita pakai sementara dan kemudian kita campakkan.
Berbagai pendapat maupun pandangan tentang definisi postmoderenisme yang pada kenyataannya memilki maksud yang sama. Menurut saya postmodernisme adalah suatu kondisi dimana manusia sebagai subjek dan objek dalam kehidupan mengatur serta menentukan kehidupannya berdasarkan asas benar dan salah yang dipandang secara relatif. Pada dasarnya teori posmodernisme atau dikenal sebagai “Posmo” merupakan reaksi keras terhadap dunia modern. Posmodernisme adalah kondisi dimana masyarakat tidak lagi diatur oleh prinsip barang, melainkan produksi dan reproduksi informasi, dimana sektor jasa menjadi sektor yang paling menentukan. Masyarakat adalah masyarakat konsumen yang tidak lagi bekerja demi memenuhi kebutuhan, melainkan demi memenuhi gaya hidup. Hal tersebut disebabkan terjadinya perubahan pada masyarakat. Perubahan masyarakat tersebut terjadi karena adanya faktor-faktor yang bersifat internal dan eksternal, yang bersifat material ataupun non material. Dibawah ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan perubahan dalam masyatrakat yang mana merupakan salah satu penyebab munculnya postmodernisme , sebagai berikut ;
a. Faktor Internal :
1. Perubahan aspek demografi (bertambah atau berkurangnya penduduk).
2. Konflik antar kelompok dalam masyarakat.
3. Terjadinya gerakan social atau pemberontakan (Revolusi).
4. Penemuan-penemuan baru yang meliputi : Discovery, Invention, dan Inovation
b. Faktor Eksternal
1. Pengaruh kebudayaan masyrakat lain yang meliputi proses-proses difusi (penyebaran unsur kebudayaan), akulturasi (Kontak kebudayaan), dan asimilasi (Perkawinan budaya).
2. Perang dengan Negara atau masyarakat lain.
3. Perubahan lingkungan alam, misalnya disebabkan oleh bencana
Istilah postmodernisme pertama kali dikumandangkan oleh seorang seniman Inggris yang bernama John Watkins pada tahun 1870-an. Selanjutnya postmodernisme mendapat tempat di arsitektur terutama dikembangkan oleh Robert Venturi dengan Complexity and Contradiction in Architecture pada tahun 1962 yang mana memproklamirkan semboyan “less is bore”. Dalam dunia filsafat, postmodernisme muncul dan diperkenalkan oleh Jean Francoisn Lyotard. Ide tentang postmodernisme dalam filsafat, berusaha menolak otonomi estetika dari kaum modernis. Konsep ini menolak hirarkhi, genealogik, menolak kontinuitas, dan perkembangan. Postmodernisme berupaya mempresentasikan yang tidak dapat dipresentasikan oleh modernisme. Postmodernisme mengembangkan kemampuan kreatif membuat makna baru yang berusaha ditolak oleh modernisme karena menilai segala sesuatu ada pakemnya.
Modernisme yang cenderung membangun struktur (strukturalisme) dalam masyarakat memandang setiap individu harus memenuhi peran yang dirancangkan untuk kita oleh masyarakat. Ini menyebabkan individualitas tergantikan oleh kumpulan citra diri yang dipakai sementara dan kemudian kita campakkan. Implikasinya pun besar, yakni munculnya kapitalisme dan rasionalitas.
Kesemarakan dan kegairahan kepada tema postmodernisme ini bukanlah tanpa alasan. Sebagai sebuah pemikiran, postmodernisme pada awalnya lahir sebagai reaksi kritis dan reflektif terhadap paradigma modernisme yang dipandang gagal menuntaskan proyek pencerahan dan menyebabkan munculnya berbagai patologi modernitas. Pauline M. Rosenau, dalam kajiannya mengenai postmodernisme dan ilm- ilmu sosial, mencatat setidaknya lima alasan penting gugatan postmodernisme terhadap modernisme yakni, sebagai berikut ;
1. Modernisme dipandang gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan ke arah masa depan kehidupan yang lebih baik sebagaimana diharapkan oleh para pendukungnya.
2. Ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang- wenangan dan penyalahgunaan otoritas keilmuan demi kepentingan kekuasaan.
3. Terdapat banyak kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern.
4. Ada semacam keyakinan bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia. Namun ternyata keyakinan ini keliru dengan munculnya berbagai patologi sosial.
5. Ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisis manusia karena terlalu menekankan pada atribut fisik individu. Dengan latar belakang demikian, modernisme mulai kehilangan landasan praksisnya untuk memenuhi janji-janji emansipatoris yang dahulu lantang disuarakannya. Modernisme yang dulu diagung-agungkan sebagai pembebas manusia dari belenggu mitos dan berhala kebudayaan abad pertengahan yang menindas, kini terbukti justru membelenggu manusia dengan mitos-mitos dan berhala-berhala baru yang bahkan lebih menindas dan memperbudak.
B. Asas Pemikiran Postmodernisme
Berbagai paham dan aliran pemikiran lain di Barat selalu bertumpu dan berakhir pada empat pola pemikiran yakni epistemologi materialisme, humanisme, liberalisme dan sekularisme. Tidak terkecuali dengan postmodernisme, ini diikarenakan manusia Barat berpikir atas dasar epistemologi materialis sehingga berakhir pada anggapan bahwa manusia adalah simbol kesempurnaan. Dikarenakan manusia adalah eksistensi sempurna, maka ia dianggap tolok ukur dan kutub semua eksistensi. Dari sinilah muncul pemikiran Humanisme. Ungkapan “aku berpikir, maka aku ada” adalah perwujudan dari pemikiran di atas. Karena manusia memiliki rasio, maka ia bisa menjadi poros alam. Jadi rasiolah yang menjadi pusat kesempurnaan manusia.
Selain itu, manusia juga memiliki kebebasan berkehendak yang tidak boleh dihalangi, demi kemajuan manusia. Maka berdasarkan rasio dan kebebasan inilah muncul pemikiran liberalisme yang berarti meminimal secara optimal batas gerak manusia. Pembatas gerak manusia dapat terwujud dalam berbagai bentuk; adat istiadat, kebiasaan maupun norma agama. Dari situ dimunculkan Sekularisme yang berarti pembatasan dan meminimilir campur tangan agama pada kehidupan manusia.
Walaupun muncul berbagai persepsi yang berbeda-beda tentang postmodernisme, namun ada satu kesamaan di antara semua persepsi diatas yakni asas-asas pemikiran postmodernisme. Selain bertumpu pada empat hal di atas, aliran ini juga bertumpu pada enam hal dibawah ini, yang mana antara satu dengan yang lain terdapat kaitan yang amat erat, sebagai berikut:
1. Penolakan atas keuniversalan suatu pemikiran. Para penganut postmodernisme beranggapan, tidak ada realita yang bernama rasio universal. Yang ada adalah relativitas dari eksistensi plural. Oleh karenanya, mereka berusaha merubah cara berpikir dari “totalizing” menuju “pluralistic and open democracy” dalam segala aspek kehidupan, termasuk berkaitan dengan agama. Dari sini dapat diketahui, betapa postmodernisme sangat bertumpu pada pemikiran individualisme sehingga dari situlah muncul relativisme dalam pemikiran seorang postmodernis.
2. Penekanan akan terjadinya pergolakan pada identitas personal maupun sosial secara terus-menerus, sebagai ganti dari permanen yang amat mereka tentang. Manusia postmodernis beranggapan, hanya melalui proses berpikir yang dapat membedakan manusia dengan makhluk lain. Oleh karena itu, jika pemikiran manusia selalu terjadi perubahan, maka perubahan tadi secara otomatis akan dapat menjadi penggerak untuk perubahan dalam disiplin lain. Dari sini jelas sekali bahwa postmodernisme menolak segala bentuk konsep fundamental bersifat universal yang memiliki nilai sakralitas dan yang menjadi tumpuan konsep-konsep lainnya. Manusia postmodernis diharuskan selalu kritis dalam menghadapi semua permasalahan, termasuk dalam mengkritisi prinsip-prinsip dasar agama.
3. Pengingkaran atas semua jenis ideologi. Selayaknya dalam konsep berideologi, ruang lingkup dan gerak manusia akan selalu dibatasi dengan mata rantai keyakinan prinsip yang permanen. Sedang setiap prinsip permanen dengan tegas ditolak oleh kalangan postmodernis. Oleh karenanya, manusia postmodernis tidak boleh terikat pada ideologi permanen apapun, termasuk ideologi agama.
4. Pengingkaran atas setiap eksistensi obyektif dan permanen. Atas dasar pemikiran relativisme yang mereka yakini, manusia postmodernis berusaha meyakinkan bahwa tidak ada tolok ukur sejati dalam penentuan obyektifitas dan hakekat kebenaran. Tuhan yang dianggap sakral oleh manusia agamis pun diingkari kaum postmodernis. Ungkapan Nietzsche “God is Dead” atau ungkapan lain seperti “The Christian God has ceased to be believable”, terus merebak dan semakin digemari oleh banyak kalangan di banyak negara Barat, sebagai bukti atas usaha propaganda mereka. Ingat, ungkapan mereka tidak hanya berkaitan dengan agama Kristen, namun akan mereka generalisasi kesemua agama termasuk Islam.
5. Kritik tajam atas semua jenis epistemologi. Kritik tajam secara terbuka merupakan asas pemikiran filsafat postmodernisme. Pemikiran ataupun setiap asumsi yang bersifat prinsip yang berkaitan dengan keuniversalan, sebab akibat, kepastian dam sejenisnya akan diingkari. Berbeda halnya pada zaman Modernis, semua itu dapat diterima oleh manusia modernis. Tentu, hal itu bukan berarti bahwa semua pemikiran yang dulu terdapat pada masa modernisme ditolak mentah-mentah oleh postmodernisme. Rencana postmodernisme pada kasus tersebut adalah dalam rangka mengevaluasi kembali segala pemikiran yang pernah diterima pada masa modernisme, dengan cara mengkritisi dan menguji ulang. Henry Girao, seorang interpretator postmodernisme mengatakan, “Tugas filsafat adalah untuk meminimilir kedekatan jarak antara modernisme dan postmodernisme, terutama dalam bidang tujuan maupun target pendidikan dan pengajaran”.
6. Pengingkaran akan penggunaan metode permanen dan paten dalam menilai maupun berargumen. Dengan kata lain, para manusia postmodernis cenderung menggunakan metodologi berpikir “asal comot” tanpa dasar standar logika yang jelas. Konsep berfilsafat dalam era postmodernisme adalah hasil penggabungan dari berbagai jenis pondasi pemikiran. Mereka tidak mau terkungkung dan terjebak dalam satu bentuk pondasi pemikiran filsafat tertentu. Hal ini mereka lakukan demi menentang kaum tradisional yang selama ini mereka anggap tidak memiliki pemikiran maju karena mengacu pada satu asas pemikiran saja. Padahal tanpa mereka sadari, pengadopsian berbagai pondasi pemikiran sangat rawan dalam kesalahan berpikir. Berapa banyak paradok terjadi antara pemikiran filsafat satu dengan yang lain. Itulah yang sekarang ini dihadapi oleh para pendukung postmodernisme, paradoksi pemikiran. Untuk menutupi rasa malunya, para pendukung postmodernisme seperti Rorty, menganggap bahwa apa yang mereka dapati sekarang ini adalah apa yang disebut dengan post philosophy, puncak perbedaan dengan filsafat modernis. Dengan jenis filsafat inilah, mereka ingin meyakinkan masyarakat Barat bahwa dengan berpegangan dengan konsep dan ideologi tersebut mereka akan dapat meraih berbagai hal yang menjadi impian dalam kehidupannya. Namun, mereka tetap tidak dapat lari dan bersembunyi dari segala bentuk paradoksi pemikiran yang selalu menghantui dan menghadangnya.
C. Pengertian Agama
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata “agama” berarti suatu sistem, prinsip kepercayaan terhadap Tuhan dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu. Kata “agama” dapat juga didefinisikan sebagai perangkat nilai-nilai atau norma-norma ajaran moral spiritual kerohanian yang mendasari dan membimbing hidup dan kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai warga masyarakat. Definisi tentang agama dipilih yang sederhana dan meliputi. Artinya definisi ini diharapkan tidak terlalu sempit atau terlalu longgar tetapi dapat dikenakan kepada agama-agama yang selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama itu. Untuk itu terhadap apa yang dikenal sebagai agama-agama itu perlu dicari titik persamaannya dan titik perbedaannya.
Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misal Tuhan, Dewa, God, Syang-ti, Kami-Sama dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti Yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng Dumadi, De Weldadige dan sebagainya. Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri , yaitu :
• menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan.
• menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan.
Dengan demikian diperoleh keterangan yang jelas, bahwa agama itu penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat 3 unsur, ialah manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama.
D. Kondisi Agama di Era Postmodernisme
Salah satu fenomena yang menarik terjadi ditengah-tengah masyarakat kontemporer adalah menguatnya wacana spiritual sebagai bentuk pencerahan jiwa atas segala macam deru kehidupan manusia yang sarat dengan berbagai patologi kejiwaan. Lebih jauh lagi, muncul pula radikalisasi atau fundamentalisasi agama ditengah-tengah masyarakat yang dimotori oleh kelompok-kelompok tertentu dengan dalih bahwa hanya kembali kepada jalan tuhanlah manusia dapat selamat dari berbagai cobaan yang menimpanya. Disamping sebagai bentuk penolakan terhadap sekularisasi yang lekat digencarkan diantara seluk kehidupan manusia saat ini.
Dr. Yasraf Amir dalam jurnalnya berjudul “Fenomena sufisme ditengah masyarakat postmodern: sebuah tantangan bagi wacana spiritualitas” menyatakan menguatnya wacana spiritualitas adalah karena disebabkan budaya posmodernisme sering dituduh sebagai budaya yang sarat paradoks dan kontradiksi diri (self contradiction), yang dapat menggiring pada paradoks sufisme itu sendiri. Di satu pihak, wacana sufisme dapat menjadi semacam penjaga gawang kesucian jiwa di tengah masyarakat yang disarati gejolak pelepasan hasrat tak berbatas (unlimited desire); di lain pihak, sufisme sendiri dikhawatirkan dapat terperangkap dalam mekanisme mesin-mesin hasrat masyarakat posmodern, bila rayuannya tidak dapat dibendung. Memperbincangkan sufisme dalam kancah masyarakat posmodern pada dasarnya memperbincangkan dua arah perjalanan spiritual yang bertentangan satu sama lain. Perbedaan arah spiritual tersebut, disebabkan perbedaan mendasar antara sufisme dan posmodernisme dalam melihat peranan hasrat dalam masyarakat.
Hakikat sufisme adalah pengendalian hasrat, sebaliknya hakikat posmodernisme adalah pembebasan hasrat (desiring liberation). Dari sini dapat kita lihat bahwa masyarakat ditengah-tengah arus postmodern pada akhirnya kembali kepada kepercayaannya (beliefs) yang dahulu dikatakan sebagai tahap yang paling primitif dari perkembangan pemikiran manusia. Dalam hal ini banyak masyarakat yang kemudian berasumsi bahwa modernisasi yang terjadi saat ini tidaklah dapat sepenuhnya memberikan jawaban atas segala problematika hidup yang dihadapi manusia terlebih jika problematika yang dihadapin yaitu cenderung tidak dapat dicarikan jawabanya secara ilmiah dan rasional. Maka dari itulah akhirnya banyak masyarakat yang berbondong-bondong mencari alternatif lainnya, khususnya yang berkaitan dengan ketenangan jiwanya dalam menghadapi realitakehidupan. Kebetulan, oleh sebagian lainnya peluang ini dimanfaatkan dengan membuka, seperti, kelas-kelas sufisme yang tadi diuraikan sedikit sebelumnya, majelis-majelis dzikir, dan kelompok-kelompok pengajian bahkan perguruan-perguruan olah bathin yang,entah sengaja atau tidak, dibuat sedemikian rupa dengan berbagai macam metode dan pemikiran yang beragam pula.
Namun lucunya, hingga saat ini justru fenomena tersebut memunculkan apa yang dalam paradigma modernitas, disebut sebagai moneterisasi nilai-nilai, dalam hal ini nilai-nilai spiritualitas. Karena biasanya, untuk masuk dalam kelompok-kelompok tersebut dianjurkan untuk membayar program-program yang ditawarkan sebagai imbalan atas berhasilnya program atau metode yang ditawarkan. Meskipun ada juga mungkin yang memberikannya secara cuma-cuma. Disamping menguatnya wacana spiritualitas diatas, fenomena lain yang terjadi adalah munculnya radikalisasi agama sebagai wujud dari perkembangan manusia modern yang semakin sekuler. Kebebasan yang secara membabi buta di implementasikan dalam kehidupan manusia, ternyata memiliki dampak yang terbilang negatif. Seperti kemerosotan kualitas nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat serta berbagai penyimpangan-penyimpangan di berbagai sektor pranata sosial lainnya. Terlebih proses sekularisasi, yang memisahkan agama dari kehidupan sosial, dipandang oleh sebagian dapat menciptakan manusia yang liar, beringas dan amoral.
Oleh karena itu, muncullah radikalisasi agama sebagai pandangan yang menekankan pada ajaran ilahi yang terintegrasi ke dalam setiap kehidupan sosial manusia. Maksud dari radikalisasi disini adalah, diterapkannya ajaran agama kedalam realita sosial demi mencapai kehidupan yang lebih baik lagi. hanya saja penerapannya sesuai dengan versi penafsiran ajaran masing-masing. Seperti contoh, muncul gerakan Jamaah Islamiyah di Indonesia yang menilai hanya dengan mengimplementasikan syariat Islamlah Indonesia dapat lepas dari segala bencana yang menimpanya. Lebih lanjut mereka berpendapat bahwa itu adalah wajib hukumnya untuk diterapkan. Namun disisi lain ada pula kelompok macam Jaringan Islam Liberal yang lebih plural dan multikultural dalam melihat segala relitas kehidupan. Mereka berpandangan tidak perlulah untuk diterapkan syariat secara kaffah, yang jelas bagaimana manusia dapat berkembang labih baik dari sebelumnya.
Disatu sisi juga, ada perbedaan pendekatan dalam mengimplementasikan ajaran agama antar kelompok-kelompok tersebut. Seperti misalnya, Jamaah Islamiyah cenderung menggunakan cara-cara yang keras dan kaku, seperti pengeboman yang pernah terjadi belakangan ini. Tapi kelompok seperti Hizbu Tahrir Indonesia, cenderung melakukan pendekatan dalam wacana, tukar pikiran dan propaganda pada lingkungan-lingkungan akademis dan tertentu. Lalu ada pula Front Pembela Islam, yang ditengarai bermula dari imigrasi orang-orang Hadramaut ke Indonesia dalam jumlah besar dan massif, terjadi terutama sejak abad 19. Mereka membentuk enklave-enklave diberbagai kota di Indonesia dan mendirikan kelompok-kelompok kegiatan keagamaan lalu lebih menekankan pada memperbaiki aspek moral manusia yang semakin merosot. Kelompok ini juga dipersepsikan sebagai “salafi radikal”.Lalu ada J.I.L, yang diketuai Ulil Abshor Abdolla, yang menginterpretasikan agama secara lebih plural, tanpa menghalangi pandangan atau kebudayaan lain yang meretas masuk ketengah-tengah kehidupan masyarakat. Kelompok-kelompok ini, yang mengaku telah berdiri dalam kurun waktu yang relatif lama baru mengunjukkan tajinya dewasa ini saja. padahal kalau kita kembali menilik pada sejarah masuknya agama Islam ke ranah nusantara ini, yaitu melalui jalur perdagangan, asimilasi kebudayaan dan amalgamasi (Perkawinan Campuran). Yang kesemuanya dilakukan dengan lebih lunak, sukarela dan tanpa paksaan atau perampasan hak-hak masyarakat Indonesia saat itu. ditengarai bahwa, itu karena Islam yang dibawa ke Indonesia lebih banyak berasal dari India dan beberapa jazirah arab lainnya. Jadilah wajah Islam diindonesia yang tampak terbuka terhadap pemikiran dan kebudayaan-kebudayaan asing diluarnya demi perkembangan kehidupan manusia. Berbeda dengan masuknya Islam dinegara-negara afrika.
Disana proses penyebarannya melalui futh atau dapat diterjemahkan dengan memerdekakan suatu negara. Dengan kata lain dengan cara angkat senjata. Maka dari itu, pada perkembangannya di negara-negara afrika seperti Somalia cenderung radikal dan agak tertutup terhadap kebudayaan asing yang ada. Masa orde baru gerakan-gerakan radikal yang muncul secara intens belakangan ini sudah tentu ditekan sedalam-dalamnya agar tak muncul ketengah-tengah masyarakat. Karena seperti yang tertuang dalam buku berjudul “HM. Soeharto : membangun citra islam” karangan Miftah H. Yusufpati bahwa (alm) mantan presiden Soeharto memang menginginkan citra Islam Indonesia yang santun, terbuka pada kemajuan, tidak menolak sebuah perubahan namun juga tidak menerimanya begitu saja.
Terakhir, postmodern yang terjadi saat ini memiliki dualitas dampak nyata. Disatu sisi mampu melahirkan kemajuan sains dan teknologi dengan segala pesonanya, namun disisi lain mesti dibayangi dengan kedangkalan hati, amoralitas, kejumudan dan kungkungan-kungkungan rasionalitas yang kompleks. Fenomena yang terjadi, seperti dalam hal spiritualisme, banyak sebagian dari manusia yang menerima postmodern sebagai pembebas mesin hasrat manusia namun banyak pula yang menolaknya dan kembali mencari keutuhan jiwanya kepada sang khalik yang maha kuasa. Apalagi ditambah dengan segala macam krisis multidimensi yang terjadi ditengah-tengah kita saat ini, ketika pikiran manusia telah terbentur pada realitas yang absurd maka kembalilah mereka pada penyucian hati menjemba do’a kepada Ilahi.
E. Agama Dalam Pandangan Postmodernisme
Perubahan pemikiran keagamaan yang mencolok dari era sebelum modernisme hingga postmodernisme nampak terjainya perubahan konsep Tuhan yang sangat drastis. Munculnya postmodernisme tidak hanya ditandai oleh penghapusan metafisika obyektif dengan sistem baru, tapi juga mengesampingkan doktrin keagamaan yang berdasarkan pada metafisika. Pandangan para postmodernis tentang agama tercermin dari doktrin-doktrin mereka tentang nilai. Doktrin yang dipergunakan para pemikir postmodernisme untuk menggugat agama adalah konsep tentang nilai. Program postmodernisme adalah penghapusan nilai (dissolution of value) dan penggusuran tendensi yang mengagungkan otoritas. Hal ini dilakukan dengan merduksi makna nilai yang dijunjung tinggi dan dinilai sebagai sesuatu yang absolut oleh agama dan masyarakat.
Ini berarti bahwa segala sesuatu yang dihadapi dalam pengalaman di dunia tidak kurang dan tidak lebih dari suatu penafsiran dan segala sesuatu di dunia ini selalu ditafsiri sesuai dengan nilai-nilai subyektif dalam diri individu. Karena kecenderungan untuk selalu menafsirkan itulah maka bagi kaum postmodernisme, dunia yang dapat diketahui hanyalah dunia yang berbeda-beda atau dunia interpretasi. Ernest Gellner dalam bukunya Menolak Posmodernisme: Antara Fundameltalisme Rasinalisme dan Fundamentalisme Religius menyatakan bahwa atmosfir pemikiran postmodernisme dapat digambarkan melalui pernyataan bahwa “segala sesuatu adalah teks, dan materi dasar teks itu yang berupa masyarakat dan bahkan nyaris segala sesuatu difahami sebagai makna, dan makna itu harus didekonstruksi; pernyataan tentang realitas obyektif harus dicurigai”. Formulasi Gellner adalah tepat sebab dalam diskursus para pemikir postmodernisme dunia ini dianggap sebagai makna. Bahkan segala sesuatu adalah makna dan makna adalah segala sesuatu, dan hermeneutika adalah “nabinya”.
Dalam kondisi yang seperti ini, Gellner bahkan sampai pada kesimpulan bahwa postmodernisme cenderung memihak kepada relativisme dan bahkan menunjukkan peperangan terhadap ide kebenaran yang ekslusif, obyektif dan transenden. Sebab pikiran postmodernisme berpegang pada pendapat bahwa kebenaran adalah sesuatu yang internal dan subyektif sifatnya, sedangkan dunia ini bukan sebagai totalitas dari sesuatu, tapi sebagai totalitas fakta.
Singkatnya, postmodernisme melebur nilai tertinggi, menyingkirkan Tuhan rujukan segala bentuk nilai sebagai fondasinya.
Nilai baru yang diperkenalkan postmodernisme adalah nilai yang memiliki hubungan dengan nilai-nilai lain atau bahkan saling tukar menukar, karena memilki status yang sama dalam wajah yang universal. Oleh sebab itu bentuk segala macam nilai adalah nilai yang layak untuk saling tukar menukar antara satu peradaban dengan peradaban lain. Jadi gambaran yang menonjol tentang agama dalam pandangan postmodernisme adalah agama yang telah diputuskan dari status terdahulunya sebagai sumber nilai dan kebenaran bagi manusia. Pendekatannya sekarang telah berubah menjadi konsep akal yang dipisahkan dari konsep kepercayaan atau konsep Tuhan dan karena itu Posmodernisme menjadi eteistik. Pendekatan ini akan menggoyang konsep kepercayaan, keberagamaan, dan kebenaran yang selama ini dipegang oleh masyarakat beragama.
.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahsan diatas dapat saya simpulkan bahwa postmodernisme adalah suatu kondisi dimana manusia sebagai subjek dan objek dalam kehidupan mengatur serta menentukan kehidupannya berdasarkan asas benar dan salah yang dipandang secara relatif. Agama dalam pandangan postmodernisme, manusia tidak dapat memahami hakekat Tuhan, pemikiran postmodernisme merobohkan jalan berfikir matafisis. Akibatnya, postmodernisme memahami agama dengan cara yang sangat berbeda dari dan bertentangan dengan kepercayaan yang dianut para ahli agama. Konsep-konsep mereka tentang Tuhan, religiusitas dan kebenaran agama tidak sesuai lagi doktrin-doktrin keagamaan, sehingga kebenaran agama dipandang relatif walupun pada dasarnya keyakinan terhadap agama seharusnya berdasarkankan asas ketuhanan.

Daftar Pustaka
Abdullah, Dr. M. Amin, Falsafah Kalam di Era Posmodernisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.
Adian, Gahral Donny, Percik Pemikiran Kotemporer: Sebuah Pengantar Komprhensif, Yogyakarta: Jalasutra, 2006.
Engineer, Ali Asghafar, Islam dan Pembebasan, Yogyakarta: Lkis, 1993.
Esposito, John. L, Ancaman Islam: Mitos atau Realitas?, Bandung: Mizan, 1995.
Gellner, Ernest, Menolak Postmodernisme: Antara Fundamentalisme Rasionalis dan Fundamentalisme Religius, Bandung: Mizan, 1994.
Kattsof, Louis O, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1987.
Mchale, Brian, Constructing Postmodernism, London: New Fatter Lane, 1992.
Sugiharto, Bambang, Postmodenisme : Tantangan Bagi Filsafat, Jakarta: Kanisius, 1996.
Surajiyo, Drs, Filsafat Ilmu dan Perkembangan di Indonesia : Suatu Pengantar, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
Sumber Internet:
Anshory, Fuad, Manifesto Postmodernisme, http://www.surabayapost.co.id/ diambil pada tanggal 14 desember 2009 pukul 19.23 WIB.
Halimin, Masud, Posmodernisme dan Kebangkitan Agama, http://www.nuansaislam.com diambil pada tanggal 23 Desember 2009 pada pukul 19.22 WIB.
Penfold, Michael J, Postmodernism, http://www.webtruth.org/articles/cultural-issues-26/postmodernism-35.html diambil pada tanggal 16 desember 2009 pukul 16.56 WIB.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s