Rhida hanafie's Blog

ketulusan adalah kesempurnaan..

V. Apakah “Kediktaktoran Demokratik” Telah Tercapai di Negeri Kita? Jika Sudah, Kapan? 7 Februari 2010

Filed under: 1 — rhidahanafie @ 10:53 am

Revolusi Permanen
Leon Trotsky (1928)
V. Apakah “Kediktaktoran Demokratik” Telah Tercapai di Negeri Kita? Jika Sudah, Kapan?
Merujuk pada Lenin, Radek menyatakan bahwa kediktatoran demokratik telah tercapai di dalam bentuk kekuasaan ganda. Benar, kadang kala – dan lebih jauh lagi, secara kondisional – Lenin memang memaparkan masalah tersebut dengan cara itu; saya akui itu. “Kadang kala?” Radek menjadi marah dan menuduh saya menyerang salah satu ide Lenin yang paling fundamental. Namun Radek menjadi marah hanya karena dia salah. Dalam Lessons of October, yang dikritik oleh Radek setelah menunggu selama sekitar empat tahun, saya menginterpretasikan kata-kata Lenin mengenai “realisasi” kediktatoran demokratik dengan cara sebagai berikut:
“Sebuah koalisi kaum pekerja dan kaum tani hanya dapat mengambil bentuk sebagai sebuah bentuk kekuasaan yang belum matang dan tidak mampu merebut kekuasaan sejati – dia hanya dapat mengambil bentuk sebagai sebuah tendensi dan bukan sebagai fakta konkrit.” (Collected Works, Vol III, bagian I)
Berkaitan dengan interpretasi tersebut, Radek menulis: “Interpretasi semacam itu terhadap salah satu teori terkemuka dalam karya Lenin sama sekali tidak berharga.” Kata-kata tersebut diikuti oleh pendekatan menyedihkan pada tradisi Bolshevisme dan kesimpulannya: “Persoalan tersebut terlalu penting untuk dijawab dengan referensi terhadap apa yang kadang kala dikatakan oleh Lenin.”
Dengan ini, Radek ingin membangkitkan gambaran mengenai saya yang bertindak seenaknya terhadap salah satu ide-ide Lenin “yang paling terkemuka”. Namun Radek membuang-buang rasa marah dan kesedihan dengan sia-sia. Sedikit pemahaman akan sangat berguna di sini. Presentasi saya di dalam Lessons of October, meskipun sangat padat, tidak bersandar pada sebuah inspirasi sesaat atas dasar kutipan yang diambil dari orang kedua, namun atas dasar sebuah penelitian yang benar-benar menyeluruh terhadap tulisan-tulisan Lenin. Karya tersebut menghasilkan esensi dari ide Lenin mengenai masalah ini, sementara presentasi bertele-tele dari Radek, meskipun dipenuhi kutipan-kutipan, tidak mengandung satu arti apapun dari pemikiran Lenin.
Kenapa saya menggunakan kata-kata persyaratan “kadang kala”? Karena itulah bagaimana persoalan ini berdiri. Mengacu pada fakta bahwa kediktatoran demokratik “direalisasi” dalam bentuk kekuasaan ganda (“dalam bentuk tertentu dan hingga titik tertentu”) dibuat oleh Lenin hanya dalam periode antara April dan Oktober 1917, yaitu sebelum revolusi demokratik terlaksanakan. Radek tidak memperhatikan, tidak memahami dan tidak mengevaluasi hal tersebut. Di dalam perjuangan melawan para epigone, Lenin berbicara secara kondisional mengenai “realisasi” kediktatoran demokratik. Dia melakukan hal tersebut bukan untuk memberikan karakterisasi sejarah pada periode kekuasaan ganda – dalam bentuk tersebut hal itu tidak akan masuk akal – namun untuk berargumen melawan mereka yang mengharapkan sebuah edisi kedua yang lebih baik dari kediktatoran demokratik yang independen. Kata-kata Lenin hanya berarti bahwa tidak ada dan tidak akan ada kediktatoran demokratik di luar keguguran kandungan kekuasaan ganda yang menyedihkan. Dan untuk alasan ini partai Bolshevik harus “dipersenjatai ulang”, yakni dengan merubah slogannya. Untuk menyatakan bahwa koalisi Menshevik dan Sosialis Revolusioner dengan borjuis, yang menolak tanah untuk kaum tani dan memburu Bolshevik, merupakan “realisasi” slogan Bolshevik – hal ini entah berarti secara sengaja mengatakan hitam padahal putih atau seseorang telah kehilangan kepalanya.
Berkaitan dengan Menshevik, sebuah argumentasi dapat ditunjukkan – yang dalam tingkatan tertentu – dapat dibandingkan dengan argumentasi Lenin melawan Kamenev: “Kau mengharapkan kaum borjuis untuk memenuhi misi “progresif” dalam revolusi? Misi tersebut telah dicapai: peran politik dari Rodzianko[1], Guchkov[2] dan Milyukov adalah peran paling maksimal yang bisa diberikan oleh kaum borjuis, seperti juga Kerenskyisme adalah hal paling maksimal yang bisa dicapai oleh revolusi demokratik sebagai sebuah tahapan independen.”
Ciri khas anatomis – bagian tubuh yang tidak berkembang (rudimen) – menunjukkan bahwa nenek moyang kita memiliki ekor. Ciri khas tersebut cukup untuk memastikan kesatuan genetik dari dunia binatang. Namun manusia tidak memiliki ekor. Lenin menunjukkan kepada Kamenev dasar permulaan (rudimen) kediktatoran demokratik dalam rejim kekuasaan ganda, mengingatkan dia bahwa tidak ada organ baru yang dapat diharapkan dari rudimen tersebut. Dan kita tidak memiliki kediktatoran demokratik yang independen, meskipun kita sudah menyelesaikan revolusi demokratik lebih dalam, lebih tegas, lebih murni ketimbang yang pernah dilakukan di manapun juga.
Radek seharusnya melihat kenyataan bahwa jika di dalam periode dari Februari hingga April kediktatoran demokratik telah sesungguhnya tercapai, bahkan Molotov akan mengakuinya. Partai Bolshevik dan kelas pekerja memahami kediktatoran demokratik sebagai sebuah rejim yang tanpa ampun akan menghancurkan aparatus Negara tua milik monarki dan sepenuhnya melikuidasi kepemilikan tanah dari para bangsawan. Tetapi hal-hal tersebut tidak terlihat sama sekali di dalam periode Kerensky. Bagaimanapun juga bagi Partai Bolshevik, ini adalah persoalan realisasi nyata dari tugas-tugas revolusioner dan bukan pengungkapan “rudimen” sosiologis dan sejarah tertentu. Dalam rangka mencerahkan musuh-musuhnya secara teoritis, Lenin menerangkan dengan baik ciri-ciri tersebut yang tidak berkembang – dan itulah yang dia lakukan dalam hubungan tersebut. Namun Radek berusaha keras untuk meyakinkan kita bahwa dalam periode kekuasaan ganda (atau periode ketidakberdayaan), “kediktatoran” ini eksis dan revolusi demokratik telah tercapai. Tetapi “revolusi demokratik” semacam itu membutuhkan semua kejeniusan Lenin untuk mengenalinya. Namun inilah yang menandakan bahwa “revolusi demokratik” ini tidak tercapai. Revolusi demokratik yang sejati adalah sesuatu yang akan dapat dengan mudah dipahami oleh setiap petani buta huruf di Rusia atau Cina. Namun sepanjang ini berkaitan dengan karakter morfologis, itu adalah hal yang lebih sulit. Sebagai contoh, meskipun memiliki pelajaran yang disediakan oleh Kamenev di Rusia, adalah mustahil untuk membuat Radek melihat kenyataan bahwa di Cina juga kediktatoran demokratik yang serupa telah “terealisasikan” seperti yang dijelaskan oleh Lenin (yakni “terealisasikan” melalui Kuomintang); dan hal tersebut dicapai jauh lebih penuh dan dalam bentuk yang lebih sempurna ketimbang di negeri kita melalui institusi kekuasaan ganda. Hanya orang tolol tanpa harapan yang dapat mengharapkan sebuah edisi kedua yang lebih baik dari “demokrasi” di Cina.
Jika kediktatoran demokratik telah dicapai di negeri kita dalam bentuk Kerenskyisme, yang memainkan peran pesuruh untuk Lloyd George[3] dan Clemenceau[4], maka kita harus mengatakan bahwa sejarah mengolok-olok dengan kejam slogan strategis Bolshevisme. Untungnya, ini tidaklah benar. Slogan Bolshevik kenyataannya tercapai – bukan sebagai sebuah ciri khas morfologis, namun sebagai sebuah realitas sejarah yang luar biasa. Hanya saja hal tersebut bukan tercapai sebelum Revolusi Oktober, tapi setelahnya. Perang tani, dalam kata-kata Marx, mendukung kediktatoran proletariat. Kolaborasi dari kelas pekerja dan kelas tani dicapai melalui Revolusi Oktober dalam sebuah skala yang sangat besar. Pada waktu itu setiap petani yang bodoh mengerti dan merasakan, bahkan tanpa komentar dari Lenin, bahwa slogan Bolshevik telah diberikan kehidupan. Dan Lenin sendiri memperkirakan Revolusi Oktober – dalam tahapan pertamanya – sebagai pencapaian sejati dari revolusi demokratik, dan oleh karena itu juga sebagai perwujudan sejati dari slogan strategis dari Bolshevik, bahkan bila slogan tersebut sudah berubah. Keseluruhan pemikiran Lenin harus dipertimbangkan. Dan terutama pemikiran Lenin setelah Revolusi Oktober, ketika dia mengamati dan mengevaluasi seluruh peristiwa dari titik pandang yang lebih tinggi. Akhirnya, pemikiran Lenin harus dianalisa dengan metode Leninis dan bukan dengan metodenya para epigone.
Pertanyaan mengenai karakter kelas revolusi ini dan “pertumbuhannya” dianalisa oleh Lenin (setelah Revolusi Oktober) di dalam bukunya yang ditulis untuk melawan Kautsky. Inilah salah satu kalimat yang seharusnya direfleksikan sedikit oleh Radek.
“Benar, revolusi kita (Revolusi Oktober – L. T) adalah revolusi borjuis, selama kita berjalan bersama kaum tani secara keseluruhan. Hal ini sangat jelas bagi kita; kita telah mengatakannya ratusan dan ribuan kali sejak 1905 dan kita tidak pernah mencoba melewati tahapan yang dibutuhkan dari proses sejarah tersebut atau menghilangkannya dengan dekrit.”
Dan lebih jauh lagi:
“Semua telah terjadi seperti yang telah kita katakan. Jalan yang diambil oleh revolusi ini telah memastikan kebenaran argumen kita. Pertama, dengan “keseluruhan” kaum tani melawan monarki, tuan tanah, rejim abad pertengahan (dan sampai sejauh ini, revolusi ini tetaplah borjuis, borjuis-demokratik). Lalu dengan kaum tani yang paling miskin, dengan kaum semi-proletar, dengan semua orang yang tereksploitasi, melawan kapitalisme, termasuk penduduk desa yang kaya, kulak[5], para lintah darah, dan pada tingkatan tersebut revolusi ini menjadi sebuah revolusi sosialis.”[6]
Itulah bagaimana Lenin memaparkan persoalan ini – bukan “kadang kala” namun selalu, atau lebih tepatnya, hampir selalu – ketika dia memberikan sebuah evaluasi akhir, umum dan yang disempurnakan mengenai revolusi Rusia, termasuk Revolusi Oktober. “Semua telah terjadi seperti yang telah kita katakan”. Revolusi borjuis-demokratik dicapai sebagai sebuah koalisi dari kaum pekerja dan kaum tani. Pada periode Kerensky? Tidak, ini tercapai pada periode pertama setelah Revolusi Oktober. Apakah itu benar? Iya benar. Namun seperti yang kita ketahui, revolusi borjuis-demokratik ini dicapai bukan dalam bentuk kediktatoran demokratik namun dalam bentuk kediktatoran proletariat. Dengan ini, formula aljabar yang lama itu tidak dibutuhkan lagi.
Jika argumen kondisional Lenin dalam melawan Kamenev pada tahun 1917 dan karakterisasi Leninis dari Revolusi Oktober yang kompleks pada tahun-tahun berikutnya dibandingkan secara tidak kritis, maka dapat disimpulkan bahwa dua revolusi demokratik “tercapai” di Rusia. Ini terlalu berlebihan, terutama karena revolusi demokratik yang kedua dipisahkan dari yang pertama oleh pemberontakan bersenjata kaum proletar.
Sekarang bandingkan kutipan di atas dari buku Lenin, The Proletarian Revolution and the Renegade Kautsky, dengan kalimat dari buku Hasil dan Prospek saya dimana dalam bab berjudul ‘Rejim Proletariat’, saya menjelaskan tahapan pertama dari kediktatoran proletariat ini dan prospek dari perkembangannya ke depan:
“Penghapusan feodalisme akan didukung oleh seluruh kaum tani, yang merupakan kelas yang memikul beban ini. Pajak-penghasilan progresif juga akan didukung oleh mayoritas kaum tani. Tetapi undang-undang apapun yang ditujukan untuk melindungi kaum proletar tani (kaum buruh tani) tidak akan menerima simpati aktif dari mayoritas kaum tani dan juga akan ditentang oleh minoritas kaum tani.”
“Kaum proletar akan menemui dirinya sendiri terpaksa membawa perjuangan kelas ke dalam pedesaan dan menghancurkan elemen borjuis yang tidak diragukan dapat ditemui pada semua petani, walaupun dalam limit yang terbatas. Dari saat ia mengambil kekuasaan, kaum proletar harus mencari dukungan dari antagonisme antara kaum desa yang miskin dan kaum desa yang kaya, antara kaum buruh tani dan kaum borjuis tani.”
Betapa kecilnya semua ini menyerupai sebuah “pengabaian” kaum tani dan “antagonisme” antara Lenin dan saya!
Kutipan dari Lenin di atas tidak berdiri sendiri dalam karya-karyanya. Sebaliknya, selalu dengan Lenin, formula baru ini, yang menjelaskan kejadian lebih mendalam, menjadi pusat pidato-pidatonya dan artikel-artikelnya dalam seluruh periode. Pada bulan Maret 1919, Lenin berkata:
“Pada bulan Oktober 1917 kita merebut kekuasaan bersama dengan kaum tani secara keseluruhan. Ini merupakan sebuah revolusi borjuis, karena perjuangan kelas dalam distrik pedesaan belum berkembang.”[7]
Berikut ini dikatakan oleh Lenin pada kongres partai bulan Maret 1919:
“Di dalam sebuah negeri di mana kaum proletar berkewajiban untuk mengambil kekuasaan dengan bantuan kaum tani, di mana jatuh pada pundak kaum proletar untuk bertindak sebagai agen revolusi borjuis kecil, hingga pengorganisasian Komite Petani Miskin, yaitu hingga musim panas dan bahkan musim gugur tahun 1918, revolusi kita secara garis besar merupakan sebuah revolusi borjuis.”[8]
Kata-kata tersebut sering diulang oleh Lenin dalam variasi-variasi yang berbeda dan dalam berbagai kesempatan. Namun Radek dengan mudahnya mengabaikan ide utama dari Lenin ini, yang memainkan peran yang penting di dalam kontroversi ini.
Kaum proletar mengambil kekuasaan bersama dengan kaum tani pada bulan Oktober, kata Lenin. Dengan ini saja, revolusi tersebut adalah sebuah revolusi borjuis. Apakah itu benar? Dalam arti tertentu, iya. Tetapi ini berarti bahwa kediktatoran demokratik sejati dari kaum proletar dan kaum tani, yaitu kediktatoran yang benar-benar menghancurkan rejim otokrasi dan perhambaan serta merebut tanah dari kaum feudal, dituntaskan bukan sebelum Revolusi Oktober, namun hanya setelah Revolusi Oktober; hal tersebut dituntaskan, menggunakan kata-kata Marx, dalam bentuk kediktatoran proletariat yang didukung oleh perang petani – dan kemudian, beberapa bulan kemudian, mulai tumbuh menjadi sebuah kediktatoran sosialis. Apakah ini sulit untuk dipahami? Dapatkan perbedaan pendapatan muncul dari poin tersebut hari ini?
Menurut Radek, dosa-dosa teori “revolusi permanen” adalah mencampur tahapan borjuis dengan tahapan sosialis. Namun dalam kenyataan, dinamika kelas sangatlah “tercampur” dan menggabungkan kedua tahapan tersebut, sampai-sampai ahli metafisika kita tidak mampu menemukan benang merahnya.
Tentu saja banyak lubang dan pernyataan yang keliru yang dapat ditemukan di dalam Hasil dan Prospek. Namun toh karya tersebut ditulis bukan pada tahun 1928, namun jauh sebelum Revolusi Oktober – yakni sebelum Oktober 1905. Persoalan lubang-lubang di dalam teori revolusi permanen, atau lebih tepatnya di dalam argumentasi dasar saya untuk teori tersebut pada waktu itu, bahkan tidak digubris oleh Radek; karena mengikuti gurunya – para epigone – dia tidak menyerang lubang-lubang ini, namun menyerang sisi terkuat dari teori revolusi permanen yang telah dikonfirmasikan oleh perkembangan sejarah. Dia menyerang mereka atas nama kesimpulan yang sepenuhnya palsu, yang dia tarik dari formulasi Lenin – yang belum dipelajari secara menyeluruh dan sampai tamat oleh Radek.
Berakrobat dengan kutipan-kutipan tua adalah praktek umum yang dilakukan oleh seluruh gerombolan epigone dalam landasan khusus yang sama sekali tidak berkaitan dengan proses sejarah nyata. Namun ketika lawan-lawan dari “Trotskisme” harus berkutat dengan analisa perkembangan riil dari Revolusi Oktober secara serius dan teliti – yang terjadi pada beberapa orang di antara mereka seiring waktu berjalan – maka tidak dapat dihindari mereka akan tiba pada formulasi teori revolusi permanen yang mereka tolak. Kita menemukan buktinya dalam karya A. Yakovlev yang didedikasikan untuk sejarah Revolusi Oktober. Hubungan kelas dari Rusia lama diformulasikan oleh pengarang tersebut, yang sekarang adalah boneka dari faksi yang berkuasa[9] dan niscaya lebih terpelajar dibanding para Stalinis yang lain dan terutama ketimbang Stalin sendiri, sebagai berikut:
“Kita melihat keterbatasan ganda dalam pemberontakan petani (Maret hingga Oktober 1917). Mengangkat dirinya sendiri hingga tingkat perang petani, pemberontakan tersebut tidak mengatasi keterbatasannya, tidak meledak menghancurkan batasan dari tugas-tugas mendesaknya untuk menghancurkan tuan tanah; tidak merubah dirinya sendiri menjadi sebuah gerakan revolusioner terorganisir; tidak menaklukkan karakter dari sebuah perpecahan pokok yang membedakan sebuah gerakan petani.”
“Pemberontakan petani sendiri – yang merupakan sebuah pemberontakan pokok, terbatas dalam tujuannya pada penghapusan tuan tanah – tidak dapat menang, tidak dapat menghancurkan kekuasaan Negara yang menindas kaum tani dan yang mendukung tuan tanah. Itulah mengapa gerakan agraria dapat menang hanya jika dipimpin oleh kelas perkotaan…itulah alasan mengapa nasib revolusi agraria, dalam analisa terakhir, tidak ditentukan oleh puluhan ribu penduduk desa, namun oleh ratusan penduduk dari perkotaan. Hanya kelas pekerja, yang menghantarkan sebuah pukulan mematikan kepada kaum borjuis di pusat negara, dapat membawa pemberontakan petani pada kemenangan; hanya kemenangan kelas pekerja di perkotaan dapat merobek gerakan petani keluar dari batasan bentrokan puluhan juta petani dengan puluhan ribu tuan tanah; pada akhirnya hanya kemenangan kelas pekerja yang dapat meletakkan pondasi untuk sebuah tipe baru organisasi petani yang menyatukan petani miskin dan menengah bukan dengan kaum borjuis namun dengan kelas pekerja. Persoalan kemenangan pemberontakan petani adalah persoalan kemenangan kelas pekerja di perkotaan.”
“Ketika pekerja menghantarkan sebuah pukulan yang menentukan kepada pemerintahan borjuis pada bulan Oktober, mereka oleh karena itu memecahkan persoalan kemenangan pemberontakan petani.”
Dan lebih jauh lagi:
“…Keseluruhan esensi dari masalah ini adalah sebagai berikut, berdasarkan kondisi sejarah, kaum borjuis Rusia pada tahun 1917 masuk ke dalam aliansi dengan tuan tanah. Bahkan faksi paling kiri dari borjuis, seperti Menshevik dan Sosialis- Revolusioner, tidak berani menentang kesepakatan-kesepakatan yang menguntungkan tuan tanah. Inilah perbedaan yang paling penting antara kondisi Revolusi Rusia dan Revolusi Perancis yang terjadi lebih dari seratus tahun yang lalu…Revolusi petani tidak dapat menang sebagai sebuah revolusi borjuis pada tahun 1917. (Tepat sekali! – L. T) Dua jalan terbuka baginya. Entah kalah di bawah pukulan kaum borjuis dan tuan tanah atau – menang sebagai gerakan yang mendampingi dan memberikan dukungan pada revolusi proletar. Dengan mengambil misi kaum borjuis dalam Revolusi Besar Perancis[10], dengan mengambil alih tugas memimpin revolusi demokratik agraria, kelas pekerja Rusia mendapatkan kemungkinan untuk memenangkan revolusi proletar.” (The Peasant Movement in 1917, State Publishing House, 1927, x-xi, xi-xii).
Apa elemen fundamental dari argumentasi Yakovlev di atas? Ketidakmampuan kaum tani untuk memainkan peran politik yang independen: yang secara tak terelakkan menghasilkan peran kepemimpinan kelas perkotaan. Ketidakmampuan kaum borjuis Rusia dalam memimpin revolusi agraria: yang secara tak terelakkan menghasilkan peran kepemimpinan proletariat, yang harus merebut kekuasaan sebagai pemimpin revolusi agraria; akhirnya, secara tak terelakkan menghasilkan kediktatoran proletariat yang didukung oleh perang tani dan membuka epos revolusi sosialis. Ide pokok ini menghancurkan hingga akar pengajuan persoalan mengenai karakter “borjuis” atau “sosialis” dari revolusi Rusia yang dilakukan secara metafisis. Intisari dari persoalan tersebut terletak pada fakta bahwa masalah agraria, yang menyusun basis revolusi borjuis, tidak dapat dituntaskan di bawah tatanan borjuis. Kediktaktoran proletariat muncul kedepan bukan setelah penuntasan revolusi demokratik agraria namun sebagai prasyarat bagi penuntasannya. Dengan kata lain, dalam skema retrospektifnya Yakovlev, kita memiliki semua elemen fundamental dari teori revolusi permanen seperti yang saya formulasikan pada tahun 1905. Bagi saya, formulasi teori revolusi permanen pada saat itu (tahun 1905) adalah sebuah prognosis (prediksi) sejarah. Yakovlev, mengandalkan studi pendahuluan dari seluruh staf peneliti muda, menarik gambaran dari tiga revolusi tersebut duapuluh dua tahun setelah revolusi yang pertama (Revolusi 1905) dan sepuluh tahun setelah Revolusi Oktober. Lalu hasilnya? Rakovlev mengulang hampir secara harafiah formulasi saya pada tahun 1905.
Namun bagaimana sikap Yakovlev terhadap teori revolusi permanen? Sikapnya adalah sebuah sikap setiap fungsionaris Stalinis yang ingin mempertahankan posisinya dan bahkan naik ke posisi yang lebih tinggi. Lalu bagaimana caranya Yakovlev mendamaikan evaluasinya mengenai tenaga penggerak Revolusi Oktober dengan perjuangan melawan “Trotskisme”? Sangat sederhana: dia tidak memikirkannya sama sekali. Seperti para pejabat liberal Tsarist, yang mengakui teori Darwin namun pada saat yang sama hadir secara reguler di komuni gereja, Yakovlev juga membeli hak untuk mengekspresikan ide-ide Marxis dari waktu ke waktu dengan harga berpartisipasi dalam penyerangan ritualistik terhadap teori revolusi permanen. Sangat banyak contoh serupa yang dapat ditunjukkan.
Masih bisa ditambahkan bahwa Yakovlev tidak menulis karya mengenai sejarah Revolusi Oktober yang dikutip di atas atas inisiatifnya sendiri, namun atas dasar keputusan Komite Sentral, yang pada saat bersamaan membebankan kepada saya tugas mengedit karya Yakovlev[11]. Pada waktu itu, kesehatan Lenin masih diharapkan untuk membaik, dan tidak pernah terpikirkan oleh para epigone untuk memulai sebuah perselisihan palsu mengenai revolusi permanen. Bagaimanapun juga dalam kapasitas saya sebagai mantan, atau lebih tepatnya, sebagai editor yang diajukan untuk sejarah resmi Revolusi Oktober, saya dapat menyatakan dengan penuh kepuasan bahwa sang penulis (Yokavlev), dalam semua persoalan yang diperselisihkan, secara sadar atau tidak sadar menggunakan formulasi harafiah dari karya terlarang dan tercela saya mengenai revolusi permanen (Hasil dan Prospek).
Evaluasi menyeluruh dari nasib sejarah slogan Bolshevik yang diformulasikan oleh Lenin menunjukkan dengan pasti bahwa perbedaan dari dua garis politik, “revolusi permanen” dan milik Lenin, merupakan hal yang sekunder dan subordinat. Akan tetapi, apa yang menyatukan mereka adalah apa yang paling fundamental. Dan pondasi dari kedua garis politik tersebut, yang sepenuhnya disatukan oleh Revolusi Oktober, berada dalam antagonisme yang tidak dapat didamaikan tidak hanya terhadap garis politik Februari-Maret milik Stalin dan garis politik April-Oktober milik Kamenev, Rykov dan Zinoviev, tidak hanya terhadap seluruh kebijakan Stalin, Bukharin dan Martynov di Cina, namun juga kebijakan “Cina”nya Radek saat ini.
Dan ketika Radek, yang merubah posisinya dengan sangat radikal antara tahun 1925 dan paruh kedua tahun 1928, mencoba menuduh saya tidak memahami: “kompleksitas Marxisme dan Leninisme”, maka saya dapat menjawab: Pemikiran fundamental yang saya kembangkan dua puluh tiga tahun yang lalu dalam buku Hasil dan Prospek, saya anggap sudah dikonfirmasikan oleh peristiwa-peristiwa sejarah sebagai sepenuhnya benar dan oleh karena itu sesuai dengan garis strategis Bolshevisme.
Secara khusus saya tidak melihat sedikitpun alasan untuk menarik mundur apapun yang saya katakan pada tahun 1922 mengenai revolusi permanen dalam kata pengantar buku saya The Year 1905, yang dibaca dan dipelajari oleh seluruh partai dalam banyak edisi dan dicetak ulang saat Lenin masih hidup, dan yang “mengganggu” Kamenev hanya pada musim gugur tahun 1924 dan Radek untuk pertama kalinya pada musim gugur tahun 1928.
Pada kata pengantar tersebut:
“Tepat pada periode antara 9 Januari (1905) dan pemogokan Oktober, sang penulis (Trotsky) membentuk gagasan-gagasan yang kemudian diberi nama: “teori revolusi permanen”. Nama yang cukup unik tersebut mengekspresikan ide bahwa revolusi Rusia, yang secara langsung dihadapkan dengan tugas-tugas borjuis, sama sekali tidak bisa berhenti disitu. Revolusi ini tidak akan mampu menyelesaikan tugas-tugas borjuis mendesaknya kecuali dengan meletakkan kaum proletar ke dalam kekuasaan…”
“Penilaian tersebut dikonfirmasikan sebagai sepenuhnya benar, meskipun harus menunggu selama dua belas tahun. Revolusi Rusia tidak dapat berakhir dengan sebuah rejim borjuis-demokratik. Dia harus menyerahkan kekuasaan kepada kelas pekerja. Jika kelas pekerja masih terlalu lemah untuk merebut kekuasaan pada tahun 1905, dia harus tumbuh semakin dewasa dan tumbuh kuat bukan di dalam republik borjuis-demokratik namun di dalam ilegalitas Tsarisme Tiga-Juni[12].” (Leon Trotsky, The Year 1905, kata pengantar)
Sebagai tambahan, saya ingin mengutip salah satu penilaian polemik tertajam yang saya ajukan terhadap slogan “kediktatoran demokratik”. Pada tahun 1909, saya menulis dalam koran Polandia milik Rosa Luxemburg:
“Sementara kaum Menshevik, yang memulai dari abstraksi bahwa “revolusi kita adalah revolusi borjuis” tiba pada ide untuk mengadaptasi keseluruhan taktik kaum proletar dengan taktik kaum liberal borjuis, hingga saat perebutan kekuasaan Negara. Kaum Bolshevik, yang memulai dari abstraksi yang sama: “kediktatoran demokratik, bukan sosialis”, tiba pada ide bahwa kaum proletar harus membatasi diri pada revolusi borjuis-demokratik dengan kekuasaan ditangannya. Perbedaan antara mereka dalam persoalan ini jelas cukup penting: sementara karakter anti-revolusioner Menshevisme telah ditunjukkan sepenuhnya sekarang, karakter anti revolusioner Bolshevisme dapat menjadi sebuah ancaman besar hanya pada saat kemenangan revolusi”.
Pada kalimat di atas tersebut, yang dicetak ulang dalam edisi Rusia karya saya The Year 1905, aku membuat catatan tambahan pada Januari 1922:
“Seperti yang telah diketahui, hal tersebut tidak terjadi karena Bolshevisme di bawah kepemimpinan Lenin (meskipun bukan tanpa perjuangan internal) berhasil mempersenjatai ulang dirinya secara ideologis pada poin yang paling penting tersebut pada musim semi tahun 1917, yaitu sebelum perebutan kekuasaan.”
Dua kutipan tersebut telah dibombardir dengan kritik-kritik yang kejam semenjak 1924. Sekarang setelah tertunda empat tahun. Radek juga bergabung dengan kritik tersebut. Namun jika seseorang merefleksikan kutipan-kutipan tersebut dengan cermat, harus diakui bahwa kutipan-kutipan tersebut berisi sebuah prognosis yang penting dan sebuah peringatan yang sama pentingnya. Kenyataannya bahwa pada momen Revolusi Februari seluruh “petempur tua” dari Bolshevik memegang posisi kediktatoran demokratik yang bertentangan dengan kediktatoran sosialis. Dari formulai “aljabar” Lenin murid-murid terdekatnya membuat sebuah konstruksi yang sepenuhnya metafisik dan mengarahkannya melawan perkembangan riil dari revolusi. Pada sebuah momen sejarah yang paling penting, kepemimpinan utama Bolshevik di Rusia mengadopsi sebuah posisi yang reaksioner, dan jika Lenin tidak kembali pada waktu yang tepat mereka dapat saja menikam Revolusi Oktober di bawah spanduk perjuangan melawan Trotskisme, seperti halnya mereka lalu menikam Revolusi Cina. Dengan sangat saleh, Radek menjelaskan bahwa posisi keliru dari keseluruhan strata pemimpin partai tersebut adalah semacam “kecelakaan (kebetulan)”. Namun penjelasan Radek ini memiliki nilai yang kecil sebagai sebuah penjelasan Marxis atas posisi demokratik vulgar dari Kamenev, Zinoviev, Stalin, Molotov, Rykov, Kalinin[13], Milyutin[14], Krestinsky[15], Frunze[16], Yaroslavsky, Ordzhonikidze[17], Preobrazhensky, Smilga[18] dan lusinan “Bolshevik Tua” lainnya. Bukankah lebih tepat untuk mengakui bahwa formula aljabar Bolshevik yang tua ini mengandung bahaya tertentu di dalamnya? Seperti yang selalu terjadi dengan formula revolusioner yang ambigu, perkembangan politik mengisi formula aljabar ini dengan sebuah isi yang bermusuhan dengan revolusi proletar. Jika Lenin tinggal di Rusia dan mengamati perkembangan partai Bolshevik hari demi hari, terutama selama peperangan (Perang Dunia Pertama – Ed.), sudah pasti dia akan memberikan koreksi dan klarifikasi yang dibutuhkan pada waktunya. Untungnya bagi revolusi, dia kembali ke Rusia pada waktunya[19], meskipun agak tertunda, untuk mempersenjatai ulang Partai Bolshevik secara ideologis. Insting kelas proletariat dan tekanan revolusioner dari jajaran anggota partai, yang disiapkan oleh seluruh kerja Bolshevisme sebelumnya, memungkinkan Lenin, di dalam perjuangannya melawan para pemimpin Bolshevik Tua, untuk mengganti garis kebijakan partai tepat pada waktunya.
Dari sini, apakah kita lalu harus menerima untuk Cina, India dan negeri-negeri lainnya formulasi Lenin pada tahun 1905 dalam bentuk aljabarnya, yaitu dalam semua keambiguannya? Dan bahwa kita harus membiarkan para Stalinis dan Rykovis Cina dan India (Tang Ping-shan[20], Roy[21] dan yang lainnya) untuk mengisi formula tersebut dengan isi bourjuis-kecil nasional-demokratik – dan kemudian menunggu kemunculan seorang Lenin yang akan melakukan koreksi yang diperlukan seperti pada tanggal 4 April[22]? Tapi apakah koreksi semacam itu dapat dipastikan untuk Cina dan India? Bukankah lebih tepat untuk mengajukan ke dalam formula aljabar ini koreksi-koreksi spesifik tersebut, yang kebenarannya telah dibuktikan oleh pengalaman sejarah di Rusia dan di Cina?
Apakah ini berarti bahwa slogan kediktatoran demokratik kaum proletar dan kaum tani harus dipahami sebagai sebuah “kesalahan”? Sekarang-sekarang ini, seperti kita ketahui, semua ide dan aksi manusia dibagi menjadi dua kategori: yang sepenuhnya benar, yaitu yang terdiri dari “garis umum”, dan yang sepenuhnya salah, yaitu penyimpangan dari garis tersebut. Tentu saja ini tidak mencegah apa yang sepenuhnya benar sekarang akan dinyatakan sepenuhnya salah di kemudian hari. Namun perkembangan ide-ide yang riil juga mengakui, sebelum kemunculan “garis umum”, metode perkiraan berturut-turut (successive approximation) untuk mencapai kebenaran. Bahkan di dalam aritmatika pembagian sederhana kita perlu bereksperimen dengan pilihan angka-angka kita; yang dimulai dengan digit yang lebih besar atau kecil, dan kemudian menolak semua kecuali satu dalam proses percobaan. Dalam memperkirakan target untuk tembakan artileri, metode perkiraan berturut-turut dikenal dengan “bracketing”. Kita juga tidak bisa menghindari metode perkiraan di dalam politik. Intinya adalah untuk segera memahami apa yang salah dan untuk mengajukan koreksi yang dibutuhkan tanpa ditunda-tunda.
Arti historis yang besar dari formulasi Lenin adalah bahwa di bawah kondisi epos sejarah baru, formulasi tersebut mampu menganalisa hingga akhir salah satu persoalan teoritis dan politik yang paling penting, yakni persoalan mengenai tingkat independensi politik yang mungkin dicapai oleh berbagai macam kelompok borjuis kecil, terutama kaum tani. Karena kelengkapannya, pengalaman 1905-17 dengan pasti menutup pintu “kediktatoran demokratik”. Dengan kata-katanya sendiri, Lenin menulis catatan di atas pintu tersebut: Tidak Ada Jalan Masuk – Tidak Ada Jalan Keluar. Dengan kata-kata ini dia menformulasikan: Kaum tani harus mengikuti kaum borjuis atau kaum pekerja. Namun para epigone sepenuhnya mengabaikan kesimpulan ini yang telah diraih oleh formulasi tua Bolshevisme tersebut, dan bertentangan dengan kesimpulan tersebut mereka memuja-muja sebuah hipotesis sementara dengan memasukkannya ke dalam program. Secara umum, sebenarnya disinilah letak esensi epigonisme.
________________________________________
Catatan
[1] Mikhail Vladimirovich Rodzyanko (1859-1924) adalah seorang politikus reaksioner Rusia; tuan tanah besar dan salah satu pemimpin partai Octobrist. Rodzyanko bertugas sebagai ketua Duma Ketiga dan Keempat. Pada Agustus 1917 dia mendukung pemberontakan Kornilov. Setelah Revolusi Oktober, Rodzyanko berusaha untuk menyatukan kelompok kontra revolusioner di Rusia, baik yang berada diluar negeri maupun lokal.
[2] Alexander Ivanovich Guchkov (1862-1936) adalah tuan tanah Moskow dan industrialis, organiser dan pemimpin Partai Octobrist. Presiden Duma Ketiga. Setelah revolusi Februari 1917, Guchkov adalah Menteri Angkatan Darat dan Laut pertama dalam Pemerintahan Sementara. Mundur pada tanggal 31 Mei 1917. Pada bulan Agustus 1917 dia mendukung Kornilov dalam pemberontakannya melawan Pemerintahan Sementara. Setelah Revolusi Oktober, Guchkov berusaha melawan pemerintahan Soviet.
[3] David Lloyd George (1863-1945) adalah seorang politisi Inggris yang menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris selama Perang Dunia Pertama dari tahun 1916-1922
[4] Georges Benjamin Clemenceau (1841-1929) adalah politisi Prancis yang menjabat sebagai perdana mentri Prancis dari tahun 1906-1909 dan 1917-1920.
[5] Kulak adalah istilah untuk petani kaya
[6] The Proletarian Revolution and the Renegade Kautsky, 1918, Edisi ke-4, XXVIII, 276.
[7] 8th Congress of the RCP: Report on Work in the Countryside, Edisi ke-4, XXIX, 180
[8] 8th Congress of the RCP: Report of the Central Committee, Edisi ke-4, XXIX, 137.
[9] Yakovlev baru saja diangkat sebagai Komisar Rakyat Untuk Pertanian di Uni Soviet. – L.T.
[10] Revolusi Prancis 1789 adalah revolusi demokratik di Prancis yang menumbangkan sistem absolut monarki dan feudalisme. Ini menandai awal dari kebangkitan kaum borjuis dan kapitalisme.
[11] Diambil dari notulensi sesi Biro Organisasi Komite Sentral pada 22 Mei 1922: “Untuk menginstruksikan Kamerad Yakovlev…untuk mengkompilasikan sebuah buku teks mengenai sejarah Revolusi Oktober di bawah pengawasan editorial Kamerad Trotsky.” L. T.
[12] Pada tanggal 3 Juni 1907, sebuah kudeta yang menandakan secara formal kemenangan konter-revolusi
[13] Mikhail Kalinin (1875-1946) adalah seorang Bolshevik Tua, dipilih menjadi Presiden Soviet Central Executive Committee menggantikan Yakov Sverdlov pada tahun 1919
[14] Vladimir Pavlovich Milyutin (1884-1937) adalah anggota Komite Sentral dari tahun 1912-1932, Komisaris Pertanian dalam Komisaris Dewan Rakyat setelah Revolusi dan mendukung Stalin selama periode kolektivisasi ultra kiri. Dia akhirnya menjadi korban dari pembersihan Stalin, dan meninggal di penjara.
[15] Nikolai Krestinsky (1883 – 1938) adalah anggota Biro Politik (Politbiro) pada tahun 1919. Dia lalu mendukung Oposisi Kiri pada tahun 1923-24, walaupun pada tahun 1928 dia lalu menyerah kepada Stalinisme. Dia lalu difitnah pada Persidangan Moskow dan dieksekusi.
[16] Mikhail Frunze (1885-1925) adalah seorang kaum revolusioner Rusia dan seorang Bolshevik. Pada tahun 1921 Frunze dipilih menjadi anggota Komite Sentral dan pada Januari 1925 menjadi Ketua Dewan Militer Revolusioner. Sebagai pendukung utama Gregory Zinoviev, hal tersebut membawanya pada konflik dengan Joseph Stalin. Mikhail Frunze meninggal saat operasi pada tanggal 31 Oktober 1925. Beberapa sejarahwan berpendapat bahwa Stalin terlibat dalam kematian Frunze.
[17] Gregory (Sergo) Ordzhonikidze (1886-1937) adalah seorang Bolshevik Tua dari Georgia. Pada bulan November 1926 Stalin menunjuk Ordzhonikidze untuk menjadi pemimpin dari Central Control Commission dimana dia diberikan tanggung jawab untuk mengeluarkan kaum Oposis Kiridari Partai Komunis. Namun pada tahun 1936 Stalin mulai mempertanyakan loyalitas Ordzhonikidze. Isu kemudian beredar bahwa Ordzhonikidze berencana untuk mengutuk Stalin secara terbuka di depan Pleno Komite Sentral bulan Februari 1937. Oleh karena itu tidak mengejutkan bahwa Ordzhonikidze ditemukan mati sebelum dia dapat menyampaikan pidatonya. Sertifikat kematian ditanda tangani oleh Dr Kaminsky, Komisaris Kesehatan, menyatakan bahwa dia telah melakukan bunuh diri. Kaminsky sendiri kemudian ditangkap dan dieksekusi.
[18] Ivar Tenisovich Smilga (1892-1938) adalah ketua Komite Regional Soviet Rusia di Finlandia pada tahun 1917 dan pada waktu Revolusi Oktober adalah pemimpin Bolshevik di Armada Baltic. Smilga terpilih di Komite Sentral Partai Bolshevik pada April 1917 dan kemudian berada di Komite Militer Revolusioner. Dia adalah anggota Oposisi Kiri,namun bersama dengan Preobrazhenky berekonsiliasi dengan Stalin pada waktu “Periode Ketiga” ultra-kiri sekitar tahun 1929. Namun Stalin kemudian mengeluarkan Smilga dari Komite Sentral dan kemudian dari Partai. Ketika dia dikirim ke Siberia, sebuah demonstrasi sekitar seribu orang berkumpul di stasiun kereta untuk memprotesnya. Dia ditangkap pada tahun 1933 dan dituduh sebagai teroris saat Pengadilan Moskow yangpertama. Sejarahwan Vadim Rogovin mengutip kejadian ketika dia menghadapi interogator Stalinis, Smilga berkata, “Sayalah musuhmu.” Smilga kemungkinan dieksekusi pada tahun 1938.
[19] Lenin kembali ke Rusia pada bulan April 1917, sebelumnya dia berada di pengasingan di Swiss.
[20] Tan Ping-shan (1886-1956) adalah salah seorang anggota Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok dari tahun 1923-27.
[21] Narendranath Bhattacharya (1887-1954), yang kemudian menggunakan nama Manabendra Nath Roy, adalah pemimpin Komunis India. Roy memainkan peran utama dalam gerakan revolusioner di India, Meksiko, Timur Tengah, Uni Soviet, Indonesia dan Cina. Seperti Marx dia adalah aktifis dan filsuf juga; faktanya Lenin menyebutnya sebagai “Marx Oriental”. Roy berpisah dengan Komunis Internasional pada tahun 1929 setelah secara terbuka melawan kebijakan sektarian ekstrim kiri yang diadopsi di Kongres Keenam.
[22] Mengacu pada Tesis April karya Lenin

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s